Wednesday, September 18, 2013

Di Balik Konflik Sunni-Syiah di Jawa Timur





Di Balik Konflik Sunni-Syiah di Jawa Timur

Written by: Admin SM on 14 September 2013 | 13:35




SUARA-MUSLIM.COM, ~ Saat ini publik Jawa Timur (Jatim) kembali dicengangkan oleh sebuah peristiswa kekerasan yang berbalut agama. Peristiswa berdarah yang terjadi di Puger ini sungguh sangat mengejutkan, memprihatinkan sekaligus mengkhawatirkan banyak pihak. 


Belum lama dari meletusnya peristiwa puger ini, masih segar dalam ingatan publik akan kasus konflik dan isu serupa yang terjadi di desa Karanggayam dan desa Bluuran kabupaten Sampang. Konflik yang berujung pada aksi kekerasan massa ini telah menyebabkan diungsikannya ratusan warga yang diduga pengikut aliran syiah ke Sidoarjo dengan alasan untuk menjaga stabilitas dan kondusifitas masyarakat. 



Keterkejutan dan kekhwatiran publik ini sangatlah beralasan, peristiwa Puger ini meledak di saat proses rekonsiliasi konflik Sampang masih dalam tahap pematangan. Walaupun sebenarnya penyelesaian konflik di Puger sudah dilakukan di awal tahun 2012 dengan ditandatanagninya perundingan damai antar kedua belah pihak. Namun nyatanya diluar dugaan semua pihak, eskalasi konflik yang melibatkan kelomok sunni dan kelompok syiah ini meninggi dan terjadilah peristiwa karnaval berdarah.



Di Jawa Timur, peristiwa konflik bertema sunni-syiah baik yang terjadi di Jember maupun Sampang ini sepertinya sebuah kelanjutan mata rantai dari peristiwa serupa yang terjadi di berbagai daerah di tahun-tahun sebelumnya. Sebut saja, mulai dari penyerangan sekelompok massa terhadap para pengikut IJABI yang terjadi di Desa Jambesari Kecamatan Jambesari Darussolah Kabupaten Bondowoso, pada tanggal 23 Desember2006, insiden penyerangan pesantren YAPI yang berpaham syiah oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan laskar Aswaja ada tahun 2010-211 di Bangil Pasuruan dan ketegangan-ketengan berskala kecil yang terjadi Malang. 



Fenomena ini sungguh sangat menarik, dalam artian meskipun ajaran Syiah ini banyak tersebar di Indonesia dan juga pernah mengalam resistensi di daerah lain seperti di Pandeglang Provinsi Jawa Barat (6/2/2011) dan Temanggung Provinsi Jawa Tengah (8/2/2011) namun tidak separah dan sebesar di Jawa Timur. Di Provinsi ini, eskalasi konflik dengan isu Sunni-Syiah semakin tahun mengalami peningkatan dan resistensi tehadap ajaran syiah semakin menguat dan meluas di tengah masyarakat.



Dengan demikian, maka sangatlah wajar bila kemudian muncul asumsi-asumsi konspiratif yang mengitari rentetan letusan konflik bertema Sunni-Syiah di Jawa Timur. Bahwa ada unsur kesengejaan untuk menciptakan dan memelihara konflik Sunni-Syiah yang melibatkan kekuatan transnasional. Pertanyaannya kemudian “ Benarkah ada keterlibatan kekuatan transnasional di balik konflik bertema Sunni-Syiah ini serta Mengapa percepatan dan penguatan konflik berada di Jawa Timur?”



Adalah Dr. Michael Brant, salah seorang mantan tangan kanan direktur CIA,
 Bob Woodwards yang mengawali adanya kepentingan Transnasional dalam menciptakan konflik Sunni-Syiah. Dalam sebuah buku berjudul “A Plan to Devide and Destroy the Theology”, Michael mengungkapkan bahwa CIA telah mengalokasikan dana sebesar 900 juta USD untuk melancarkan berbagai aktivitas anti-Syiah.

 Hal ini kemudian diperkuat oleh publikasi laporan RAND Corporation di tahun 2004, dengan judul “US Strategy in The Muslim World After 9/11". Laporan ini dengan jelas dan eksplisit menganjurkan untuk terus mengekploitasi perbedaan antara Ahlu Sunnah dan Syiah demi kepentingan AS di Timur Tengah. 



Kemenangan Revolusi Iran tahun 1979 telah menggagalkan politik-politik Barat yang sebelumnya menguasai kawasan negara Islam. Iran yang sebelumnya tunduk dan patuh terhadap AS, pasca revolusi, justru lebih banyak menampilkan sikap yang berseberangan dengan negeri “Paman Sam” itu. Karenanya, AS merasa berkepentingan untuk menjaga agar konflik Sunni-Syiah itu tetap ada di wilayah Timteng demi melanjutkan hegemoninya di kawasan tersebut.



Fakta di lapangan menunjukkan bahwa apa yang dinyatakan oleh Michael Brant bukanlah sebagai sebuah halusinasi. Jauh sebelum revolusi Iran tahun 1979, sangat jarang ditemukan konflik terbuka antara Syiah dan Ahlus Sunnah, kecuali konflik yang bersifat sporadis di antara kelompok-kelompok kecil dari kedua kalangan di Irak, Libanon dan Suriah.



Sementara itu, khusus di Indonesia, keberadaan kaum Syiah bukan barang baru. Syiah telah ada sejak dahulu kala. Namun, seperti layaknya secara umum, di Indonesia hampir tak pernah ditemui konflik sektarian yang melibatkan antara Sunni-Syiah. Karenanya bagi sebagian pengamat, sangatlah mengherankan jika tiba-tiba Sunni-Syiah turut mewarnai konflik bernuansa SARA di Indonesia. Bila kita tarik apa yang dinyatakan oleh Michael Brant tersebut ke ranah domestik, maka jelas ada kepentingan di luar SARA yang turut berperan -bahkan mengambil porsi lebih besar- dalam konflik Sunni-Syiah di Indonesia.



Selanjutnya, di Indonesia kepentingan tranasional Barat ini bersimbiosis dengan kekuatan kelompok Islam transnasional yang kemudian banyak diidentikan dengan gerakan Wahabisasi Global. Tujuan utama kelompok ini adalah dengan membuat dan medukung kelompok-kelompok lokal untuk membuat wajah Islam lebih keras dan radikal serta berusaha memusnahkan pengamalan-pengamalan Islam yang lebih toleran yang lebih lama ada dan dominan di Indonesia. Kelompok ini berusaha keras untuk menginfiltrasi berbagai sendi kehidupan umat Islam Indonesia dalam beragam cara baik secara halus mapun kasar.



Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh K.H. Abdurrahman Wahid :
dalam pengantar buku Ilusi Negara Islam bahwa Gerakan asing Wahabi/Ikhwanul Muslimin dan kaki tangannya di Indonesia menggunakan petrodollar dalam jumlah yang fantastis untuk melakukan Wahabisasi, merusak Islam Indonesia yang spiritual, toleran, dan santun, dan mengubah Indonesia sesuai dengan ilusi mereka tentang negara Islam yang di Timur Tengah pun tidak ada. Mereka akan mudah menuduh kelompok Islam lain yang tidak sepaham dengan ajaran wahabi sebagai kafir, sesat dan murtad.



Analisis ini juga dikuatkan oleh sebuah realitas pergerakan politik di Timur Tengah, dikonflik Internasional kita lihat perang Saudara di Irak, Suriah, Pakistan dan Afgahnaistan semuanya ditarik pada perang antara Sunni dan Syiah, belum lagi ancaman serangan ke Iran yg notebene adalah pusat Syiah. Arab Saudi sebagai Poros Wahabi dunia ini sangat ingin punya pengaruh d Timur Tengah, namun kalah pamor dengan Iran yang lebih mempunyai Sumber Daya Alam maupun sumber daya manusia yang pintar-pintar, sejak jaman persia dahulu kala. Sedangkan di Indonesia sendiri, konflik Sunni-Syiah tidak mempunyai akar sejarah politik.



Rupanya kelompok Wahabisasi global ini pun memahami bahwa NU merupakan penghalang utama pencapaian target idiologis dan politik mereka. Sebagai organisasi Sunni terbesar di Indonesia selama ini NU begitu gencar dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam yang moderat, humanis dan toleran. Bahkan dalam pergaulan internasional di bidang keagamaan pemikiran-pemikiran NU berikut tokoh-tokohnya menjadi refrensi umat Islam dunia. Citra sebagai gerakan Islam moderat, diakui atau tidak, adalah milik NU. Praksis, upaya-upaya untuk mendiskreditkan, merusak citra NU sebagai organisasi kaum sunni dengan ajaran Islam yang lembut dan toleran kerap dilakukan salah satunya dengan membenturkan kaum Nahdliyin dengan kaum syii di Indonesia.



Untuk melakukannya lalu dipilihlah Jawa Timur sebagai lokasi pabrik yang memproduksi konflik-konflik bertema Sunni-Syiah. Pilihan ini sangatlah strategis, publik tahu bahwa Jawa Timur merupakan basis utama para penganut paham ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah .

 Di Jawa Timur lah, NU sebagai organisasi masyarakat terbesar di Indonesia yang berpahamkan Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah dideklarasikan dan didirikan yang kemudian berkembang pesat dan cepat ke seluruh penjuru nusantara. Di Jawa Timur pulalah, dinamika pergerakan NU menjadi barometer politik nasional.



Di samping itu, pilihan lokasi konflik seperti Jember, Pasuruan, Malang dan Sampang juga bukan tanpa kalkulasi yang strategis.
 Publik pun tahu, bahwa di daerah-daerah tersebut karakter masyarakatnya sangat lekat dengan kultur Madura
. Selain dikenal sebagai pengikut NU yang fanatik, masyarakat dengan kultur madura ini telah menjadikan Islam sebagai salah satu unsur penanda identitas etnik Madura. Sebagai unsur identitas etnik, agama merupakan bagian integral dari harga diri orang Madura. 



Oleh karena itu, pelecehan terhadap ajaran agama atau perilaku yang tidak sesuai dengan agama, mengkritik kiai serta mengkritik perilaku keagamaan orang Madura, merupakan pelecehan terhadap harga diri orang Madura. Maka janganlah heran jika, warga Nahdliyin Madura dimanfaatkan dan mudah disulut sebagai pengobar api kerusuhan dengan isu sentimen beda aliran agama. Walhasil, eskalasi percepatan isu dan penguatan konflik terbesar berada di wilayah Madura dan Tapal Kuda dan jarang sekali berada di zona lainnya seperti pantura maupun zona matraman. Wallahu alam bis showab





* Penulis adalah Ketua Lakpesdam NU Sampang

Wednesday, September 11, 2013

SULTAN HAMID.II,KORBAN “MINORITY REPORT”


Sul;tan Hamid.II, ketika memasuki Ruang Sidang Mahkamah Agung,



SULTAN HAMID.II,KORBAN “MINORITY REPORT”

Baru baru ini, ditanah kelahirannya, Pontianak, Kalimantan Barat, telah di launching sebuah buku tentang beliau ini. Sultan Hamid.II, Sang perancang lambang Negara, Elang Rajawali, Garuda Pancasila, judulnya.  Ditulis oleh :  Ansyari Dimyati, Dkk. Kita  sebut saja mereka ini sebagai “ Tiga serangkai,Pencari  Keadilan,”

Terlepas dari diakui atau tidaknyanya peran dan jasa beliau, saya teringat pernah menonton sebuah film produksi Holywood,judulnya “Minority Report” dengan bintang utama : Tom Cruise, salah satu actor handal di negeri Paman Sam itu.

Dalam film itu diceritakan, America masa depan,pada tahun : 2025, kalau saya tidak salah. Syahdan pada masa itu, diberlakukan hukum, bahwa seseorang dapat dihukum karena niatnya yang belum atau baru akan terjadi belakangan. ia dapat ditangkap dan diadili karena niatnya itu. alkisah sang penegak hukum tersebut di komandani oleh Tom Cruise, memiliki satu unit perangkat penegak hukum dengan peralatan serba canggih dan modern, futuristic, termasuk pesawat mini yang bisa take off dan landing vertical, sehingga bisa bergerak cepat dalam hitungan menit, meluncur ke lokasi kejahatan yang akan terjadi tersebut.

pertanyaanya , darimana mereka dapat informasi kejahatan itu akan terjadi?

Ternyata mereka menggunakan dua manusia kembar, cenayang,yang mereka paksa memberikan gambaran kejadian berdasarkan kilatan penglihatan mereka berdua itu. Kedua manusia yang memiliki kemampuan melihat masa depan ini, mereka tempatkan dalam satu wadah semacam kolam renang mini, dimana mereka berdua mengapung diatasnya. Kilatan fikiran mereka diterjemahkan oleh alat yang dipasang di kepala mereka, (mirip headset  untuk mendengarkan music.) Kilatan penglihatan mereka dibaca dan diterjemahkan oleh komputer dalam bentuk keluarnya bola kayu, berwarna merah.
Dari visualisasi gambar yang mereka rangkai dari potongan – potongan kilatan penglihatan itu, kemudian di simpulkan nama, tempat,tanggal dan waktu kejadian itu akan terjadi.

Gambar itu kemudian di tranmisikan secara online kepada jaksa dan kepada hakim, yang kemudian  menjatuhkan vonis, dan memerintahkan dilakukanya penangkapan atas tersangka yang diduga akan dilakukanya nanti.

Dengan demikian kejahatan dapat dicegah, dan si calon pelaku kejahatan tersebut dapat ditangkap dan langsung di tahan dengan cara dibekukan, dimasukkan dalam wadah berbentuk tabung, dibuat seperti dalam keadaan tertidur, mirip film “Demolition Man,” yang dibintangi, Silvester Stallone, si Rambo, Pahlawan Vietnam itu,-  denyut nadi dan detak jantung tetap di pantau, dan akan disadarkan kembali nanti, ketika vonis hukumanya telah berakhir, dan ia telah menjalani hukuman berupa”Dibekukan” selama rentang waktu masa hukumanya.

Cerita ini menjadi menarik, karena tanpa diduga, si cenayang memvisualisasikan si komandan (Tom Cruise) yang akan melakukan kejahatan berupa penembakan seseorang,  pada masa depan.

Bagaimana bisa?  Sedangkan dia adalah kepala team unit anti kejahatan tersebut?

Alhasil cerita menjadi seru, bagaimana si komandan berupaya menyelidiki kasus yang akan menyebabkan dirinya sendiri melakukan kejahatan. Ternyata, pada masa depan, si komandan akan mengalami kejadian berupa kehilangan anak tunggalnya, ditengah keramaian kolam renang umum. Putranya itu diculik dan tidak diketahui nasibnya. hal inilah yang membuat si komandan gelap mata. Dari penyelidikannya itu, dia  menemukan  si pelaku dengan bukti gambar korbanya di sebuah kamar hotel, yang berserakan diatas kasur, termasuk foto anaknya yang hilang.

Yang lebih menarik, inti ceritanya, ternyata bukan itu? Lalu gimana?

Ternyata,gambar visual yang dimunculkan si cenayang adalah hasil rekayasa untuk menutupi kasus sebenarnya yang sudah terjadi, berupa pembunuhan yang telah dilakukan oleh atasanya,  terhadap ibu kandung dari kedua cenayang yang mereka gunakan itu. 

Si Komandan, (Tom Cruise), melalui koleganya nekad melakukan perbuatan menculik si cenayang dan mengeluarkannya dari kolam tempat dimana mereka di tempatkan selama ini. tentu saja perbuatan ini menyebabkan si komandan, menjadi buronan yang paling dicari di negeri itu.

kisah bagaimana si komandan bersembunyi dan upaya mengungkap kejahatan sebenarnya yang sudah terjadi, dan melintas dalam kilatan penglihatan si cenayang ber ulang-ulang, itulah yang menjadi inti dari film ini. 

Mampukah si Komandan membuktikan bahwa ia tidak bersalah, bahwa sebetulnya visualisasi itu hanya rekayasa, bahwa ia, pada bagian akhir film, tidak jadi menembak si tersangka yang telah menculik anaknya itu?

Kalau mau lebih jelas, silahkan cari DVD nya, saya yakin banyak  dijual di pasaran.

Dalam kasus Sultan Hamid.II, kebetulan saya baca pledoinya,yang saya dapat dari transkrip tulisan di blog lentera timur, beliau juga di vonis bersalah dengan tuduhan yang sangat serius pada zaman itu, tahun 1953,  berupa tuduhan makar terhadap Negara, karena merencanakan penembakan tiga orang pejabat tinggi Negara, menteri Negara .

 Beliau, Sultan Hamid.II, di vonis sepuluh tahun penjara, dipotong masa tahanan tiga tahun  sebelum peradilan, dengan tuntutan delapan  belas tahun penjara oleh jaksa penuntutnya, atas kejahatan yang belum dilakukanya, atau batal dilakukanya. Tidak cukup sampai disitu, setelah bebas, beliau kemudian ditangkap lagi, dengan tuduhan merencanakan gerakan merongrong Negara, bersama  coleganya, yang dikenal dengan istilah “Bali Conection”

Ironis memang, seorang anak bangsa yang ikut aktif memperjuangkan kemerdekaan bangsanya, dan menyumbangkan jasa besar dengan merancang lambang Negara berupa : Elang rajawali – Garuda Pancasila, yang kita gunakan hingga hari ini,- hidupnya terpuruk dari tahanan ke tahanan dari sel ke sel.

Sebelumnya, pada masa pendudukan jepang di Indonesia, Sultan Hamid.II,juga ditahan oleh jepang sebagai tawanan perang, setelah  pertempuran dengan jepang di Balikpapan, dalam kondisi terluka, diungsikan ke Surabaya, kemudian Ke Malang, sebelum ditangkap Jepang, dan ditahan di Batavia, Jakarta sekarang. Beliau memang perwira Belanda, lulusan akademi militer Belanda, di Breda.

Persoalanya adalah, Bisakah seseorang dihukum hanya karena niatnya?

Dalam kasus Sultan Hamid.II, banyak kemiripan yang terjadi dengan film “Minority Report “ yang saya ceritakan diatas tadi.  Meskipun Mahkamah Agung tidak sanggup membuktikan keterlibatan beliau secara langsung, sebab sampai akhir sidang, pelaku yang dikaitkan dengan keterlibatan  beliau, bekas anak buah beliau di KNIL, tentara belanda, yang melakukan gerakan perlawanan di Pasundan, sekarang Provinsi Jawa barat, yaitu Mr. Raymond Westerling,  tidak hadir sebagai saksi?

Sultan Hamid.II, adalah korban minority Report,

Jauh sebelum holywood membuat film itu, ternyata, kita sudah membuat film yang jauh lebih bagus, dengan pembusukan seorang anak bangsa yang memiliki intelektualitas, ide, pemikiran, dan pendidikan akademik serta kemampuan diplomasi setara dengan “Founding Father”  Bapak – bapak bangsa pendiri negeri ini.

Sultan Hamid.II, adalah Kolega dekat Almarhum President Sukarno, Mohammad Hatta, Mr.Muhammad yamin, Sri Sultan  Hamengku Buwono , ( adalah temannya sejak kecil ),  Ide Anak Agung Gde Agung, Mohammad Roem, dan nama besar lainya, sebagaimana tertulis dalam buku sejarah Indonesia,  dan dibaca oleh anak sekolah dasar hingga perguruan tinggi hari ini, tentu saja,  minus nama Sultan Hamid.II

Sepanjang hidupnya, hingga akhir hayatnya,Sultan Hamid.II, di cap dengan stigma negatife, tidak sampai disitu, bahkan hasil karya intelektualnya, berupa perancang lambang Negara  : Elang Rajawali – Garuda Pancasila “ pun tidak diakui hingga hari ini. 

Seperti Wr. Supratman sang Pencipta Lagu Indonesia Raya, dan Ibu Fatmawati, istri  President Sukarno, sang penjahit Bendera Pusaka, Sang saka, Merah Putih, maka Sudah selayaknya, Sultan Hamid.II, disandingkan namanya dengan mereka, sebagai perancang lambang Negara,: Elang Rajawali – Garuda Pancasila, agar bangsa ini menjadi sempurna dan lengkap.

Bangsa yang besar adalah Bangsa yang menghargai Pahlawanya,


 Jas Merah,: jangan lupakan sejarah, itulah pesan Bung Karno, Proklamator Negara ini. Bapak Bangsa yang sangat kita hormati.

 Sudah waktunya kita menuliskan sejarah apa adanya, tanpa tendensi, tanpa menghakimi, tanpa aliansi, tanpa prasangka, tanpa stigma.

Sudah saatnya kita jujur, setelah 68 tahun kemerdekaan ini kita nikmati, mereka yang telah mengorbankan waktu, tenaga, fikiran, diasingkan, dibuang, dihina, dicaci maki, dulunya, pada masa perjuangan, pada masa transisi, selayaknya didudukkan pada tempatnya, pada porsinya sekarang ini.

Kita bukanlah Belanda, Jepang atau Inggris, mereka yang dulunya adalah penjajah bangsa kita. Mereka melihat pejuang kita, pahlawan kita, syuhada kita,sebagai pembelot, pemberontak, pelaku makar,  menurut hukum mereka,yang mereka buat guna kelanggengan kepentingan pendudukan mereka, sebagai Penjajah.

Sedikit banyak, Sultan Hamid.II, juga merupakan korban masa transisi Negara kita, dimana Undang-Undang yang digunakan menjerat beliau,  adalah undang –undang buatan Belanda, yang ditulis dalam bahasa Belanda, kemudian disadur menjadi KUHP, Kitab Undang-undang Hukum  Pidana,  dan digunakan oleh Bangsa kita, untuk mengadili “Bangsa Kita Sendiri”. Tentu saja sudut pandang hukum yang tertuang tidak sepenuhnya dapat dipakai dan diterapkan untuk bangsa ini.

 Dimana Negara kita bukanlah Negara Belanda,-yang membuat undang –undang itu,-demi kepentingan fasisnya, demi kepentingan kelanggengan penjajahanya, demi kepentingan legitimasi perampokan hasil bumi, alam, terutama rempah-rempah yang menjadi  komoditi utama  VOC, dibumi pertiwi ini. Kita semua membenci penjajahan, Pembukaan Undang-Undang Dasar kita dengan tegas menyebutkan, - Dan oleh sebab itu, maka penjajahan harus dihapuskan dari muka bumi, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan,- tapi ironisnya, kita menggunakan aturan hukum mereka, untuk mengadili bangsa sendiri. Anak bangsa sendiri. putra pertiwi,yang mencintai negeri tanah tumpah darahnya ini, dengan segenap jiwa raga dan kesadaranya.

Kesultanan Kadriah sudah ada dan eksis, jauh sebelum Negara Republik ini hadir.

Ketika Peluru meriam pertama kali ditembakkan, pada: 23 Oktober 1771, sebagai tanda dibukanya hutan rimba Kalimantan Barat, oleh nenek moyang Sultan Hamid.II,- yaitu : Sultan Abdurrahman ibni Almarhum Habib Husein Alqadrie,- pembuka hutan yang kemudian berkembang menjadi kota Pontianak sekarang ini,-

Kesultanan Kadriah telah menjalin hubungan baik dengan semua pihak, di pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, kecuali dengan VOC, pada masa awal berdirinya kesultanan ini. Dimata VOC, Abdurrahman adalah Perompak, bajak sungai, yang banyak menenggelamkan kapal-kapal mereka dimalam hari, ketika melakukan pelayaran diseputar perairan Kalimantan umumnya, dan sungai Kapuas khususnya. Jika ada anak bangsa yang melihat Sultan Abdurrahman dengan cara ini, maka bisa dipastikan, sudut pandang yang digunakan terbalik.

Sudut pandang kita adalah, apa yang dilakukan oleh Sultan Abdurrahman,dkk, pada masa itu adalah tindakan heroic, bagaimana anak bangsa yang mencoba melawan hegemony bangsa penjajah, yang mengeruk kekayaan alam negerinya.

Sebagaimana Si Pitung di tanah Betawi,  Pangeran Diponegoro di Pulau Jawa,  Sultan Hasanuddin di sulawesi,  Cut Nyak dien,  tengku Umar , Cut Meu tia, di Aceh, Patimura di Ambon, dll, itulah yang dilakukan oleh Sultan Abdurrahman. Melawan penjajahan dengan cara menenggelamkan kapal –kapal dagang VOC, yang sarat berisi muatan rempah rempah, berupa: lada, kopi, dan hasil bumi lainya.

Sultan Syarif Abdurrahman adalah menantu dari Raja Mempawah, Opu Daeng Manambon, yang menikahi putri Utin Candramidi, istri pertamanya.  Ayahnya adalah Mufti Kerajaan Mempawah sampai akhir hayatnya, beliau yang bergelar Habib Husein tuan Besar Mempawah, Makamnya sekitar 68 Km sebelah utara kota Pontianak,  sekarang ini.

Kesultanan Kadriah adalah kerajaan yang bermartabat,

terhormat,dan disegani oleh kerajaan lain pada zamannya,- ,jika saja sultan Hamid.II, mau menerima tawaran Bergabung dengan kerajaan Brunei, atau jika saja beliau menerima tawaran Kerajaan Sarawak, ( Kuching, Malaysia timur, sekarang) yang nota bene memang satu tanah , satu daratan, satu rumpun , satu budaya,  dan banyak sekali ditemukan diantara mereka masih merupakan kerabat dekat, dari satu nenek moyang yang sama, satu garis keturunan, -mungkin sejarah bangsa kita akan ditulis dengan warna berbeda.  Provinsi Kalimantan Barat tidak akan masuk peta wilayah Negara kita, tapi masuk peta wilayah Kerajaan Brunei Darussalam, atau masuk peta wilayah Persekutuan Negara Malaysia. Sebagaimana Sarawak sekarang ini, yang menjadi Negara  bagian Malaysia timur.,

Sultan hamid.II, atas nama nasionalismenya

atas nama kecintaanya kepada bangsa  ini, menolak tawaran tersebut. Dan beliau memilih ikut memperjuangkan kemerdekaan bagi negri ini, dengan aktif berdiplomasi kedalam dan keluar negeri, hingga tercapainya kesepakatan Meja Bundar, di Denhaag, negeri Belanda, yang secara tegas, mengakui kemerdekaan Indonesia, meskipun masih dalam bentuk Negara Federasi, bukan Negara kesatuan seperti yang kita nikmati sekarang ini.

Itulah kisah hidup, itulah sejarah seorang anak bangsa, Sultan Hamid.II, namanya.

Kita adalah bangsa Indonesia, bangsa yang  besar, bangsa yang dihormati oleh dunia. Kita adalah bangsa yang mayoritas memeluk agama islam, dan agama kita mengajarkan untuk memaafkan kesalahan orang lain, Mengampuni dan sikap welas asih adalah nafas agama kita. Kita adalah ummat Muhammad, Rasul terakhir, yang “Rahmatan lil alamiiin”

Kita  tidak mungkin memutar balik sejarah yang sudah terjadi, tapi kita jangan sampai memutar balik, mengkaburkan, fakta sejarah yang ditulis dengan keringat dan darah para pahlawan kita. Dan satu hal lagi, jangan sampai kita berlaku dzalim, dengan mengakui apa yang bukan menjadi hak kita, dan sebaliknya,tidak mengakui, apa yang menjadi hak orang lain.

 Dalam kasus Sultan Hamid.II, adalah hak anak cucunya, hak  kerabatnya, hak ahli warisnya, dan hak kesultanannya, serta hak rakyatnya,  untuk mendapatkan Pemulihan nama baik rajanya, sultannya, pemimpin mereka yang sangat mereka cintai dan hormati, adalah hak mereka untuk mendapatkan pengakuan yang layak,  mendapatkan penghargaan atas jasa-jasanya kepada Negara, dan sumbangsihnya yang tak ternilai dengan merancang lambang Negara : Garuda pancasila, -,yang dimenangkan nya secara legal dalam suatu sanyembara nasional yang dilaksanakan oleh Negara pada waktu itu,- yang kita pajang dan kita tatap dengan bangga hari ini.

Jangan sampai kita mewariskan sejarah yang bengkok,

kepada generasi muda, anak-anak kita, cucu-cucu kita, yang pada giliranya nanti, merekalah yang akan menjadi pemimpin-pemimpin di negeri ini.

Kita tidak mau, mereka nantinya kecewa, bahwa kita, generasi yang ada sekarang ini, yang mengajarkan kejujuran , mengajarkan kelurusan, mengajarkan anti Korupsi, anti penindasan, anti kezaliman, ternyata, dikemudian hari, kita termasuk yang tidak jujur dalam perlakuan kita, terhadap sosok anak bangsa, yang hingga hari ini, masih terkubur dalam lembaran hitam sejarah bangsanya.

Padahal, masa revolusi  sudah lewat, jaman orde lama sudah tumbang, orde  baru sudah runtuh, Reformasi  sudah lima belas tahun umurnya, dan Undang- Undang Dasar kita sudah di amandemen dua kali, Indonesia sudah merdeka, 68 tahun lamanya. Masihkah kita sebagai bangsa,:
” tak mampu meluruskan sejarah, dan memandang sesuatu secara obyektif?”

Mereka semua adalah manusia, bukan malaikat. Kesalahan yang mereka perbuat adalah bagian dari proses bangsa ini mencapai tujuannya,- Masyarakat yang adil dalam kemakmuran, dan Makmur dalam keadilan,- itulah cita cita pendiri bangsa kita. Itulah juga cita cita Sultan Hamid.II, Cuma mungkin cara bernegaranya,yang agak sedikit berbeda, Beliau memang tokoh Federalis sejati, yang mengusung faham berbeda dengan sebagian tokoh pendiri bangsa ini, akan tetapi, Seperti Pemimpin Besar lainya, sudah selayaknya kita memperlakukan pahlawan kita, dengan cara yang arif, santun, bijak, hormat, dan rasa terima kasih, yang sesuai porsinya, atas  peran mereka. 

 Mereka adalah orang tua kita, tanpa mereka, perjuangan mereka, mungkin kita sampai hari ini belum menikmati rasanya “ Hidup sebagai manusia merdeka,”

Mungkin sebagian dari kita, atau kerabat kita, saat ini, masih berada ditengah hutan di Burma, sebagai Romusha, pekerja paksa, yang gajinya adalah cemeti, dan pensiunnya adalah “mati”

Sebagai orang tua kita, mungkin mereka pernah berbuat salah, adalah kewajiban kita untuk memaafkan mereka, karna kita adalah anak – anak bangsa, anak-anak negeri, adalah kewajiban kita berbakti kepada orang tua,

 Sebagaimana kita memaafkan kesalahan bapak – bapak bangsa kita yang lain, tak layakkah kita juga membuka pintu maaf bagi seorang Sultan Hamid.II,?

“Allahhummagfirli dzunubi, wali walidayya, warhamhumma , kama rabbayana shaghira,” (Ya allah, ampunilah dosa-dosa orang tua kami, kasihilah mereka, sayangilah mereka, sebagaimana mereka mengasihi dan  menyayangi  kami pada waktu kecil)

Mungkin sebagai generasi yang hidup saat ini,  selayaknya kita semua meneriakkan satu kata yang sama, bagi salah seorang anak bangsa, yang mengalami malapetaka, diusianya yang masih sangat muda, 36 tahun, yang menghadapi trauma psikologis luar biasa, dimana Ayahnya, Ibunya, saudaranya, dan kerabatnya berjumlah tidak kurang dari 36 jiwa,  baru saja habis dibantai secara biadab oleh kekejaman fasis Jepang, dan jika sekiranya pada saat kejadian itu, ia ada di istananya, mungkin ia pun akan tinggal nama.

Hanya mujizat Allah yang menyelamatkanya, tentara jepang mungkin tidak mengetahui, bahwa perwira Belanda yang ditahannya di Batavia itu, adalah Putra dari : Sultan Syarif Muhammad Alqadrie,  Raja Kesultanan  Kadriah  Pontianak yang menjadi target penangkapan dan pembunuhan massal,: 21,000,- jiwa yang dikenal  dengan “Peristiwa Mandor Berdarah” di Kalimantan Barat .

Sultan Hamid.II, adalah korban” Minority Report,” 

atas  kesalahan niatnya, yang diakuinya secara jujur dan terbuka, didepan sidang Mahkamah Agung yang mengadilinya, dan kesalahan niatnya itu sudah ditebusnya, dengan menjalani hukuman kurungan selama,”sepuluh tahun penjara”sesuai vonis Mahkamah Agung, yang diterimanya dengan lapang dada.

Sekarang beliau sudah tiada. Beliau sudah pulang menghadap penciptanya. menemui orang tua dan kerabatnya yang telah lebih dulu menjadi korban “Kekejaman Manusia atas manusia”

Hal yang memang di prediksi ketika manusia pertama  diciptakan sebagaimana tercermin dari dialogh antara Allah sebagai sang pencipta, dengan para malaikatnya, di surga, ketika Adam pertama kali di perkenalkan.

Manusia memang mahluk ajaib, : “Ia mampu membumbung tinggi melebihi derajat para malaikat, dan ia juga sanggup merosot tajam, sampai lebih  hina dari binatang melata,”tentu saja pandangan ini dari sisi rohani,dan dengan penglihatan Allah atas diri kita, sebagaimana tertulis dalam kitab Nya.

Mungkin sekarang sudah waktunya,: kita semua, yang masih memiliki nurani dan jiwa , melepaskan diri dari segala tendensi, dan kepentingan, lalu berteriak  dengan lantang :

“Pulihkan nama baik Sultan Hamid,II. Segera, Secepatnya,!!”

“Kami hanyalah tulang -tulang yang berserakan,

Tapi adalah kepunyaanmu,

Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan,

Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan,

Kemenangan dan harapan,

Atau tidak untuk apa-apa,

Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata,

Kaulah sekarang yang berkata,

Kami bicara padamu dalam hening dimalam sepi,

Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak,

Kenang-kenanglah kami,


( Chairil Anwar )

Sunday, August 25, 2013

Pangeran Saudi buka borok Kerajaan


Makar Kerajaan Saudi
Pangeran Saudi Membelot dari Keluarga Kerajaan al-Saud
islam Times- "Dengan bangga, saya mengumumkan pembelotan saya dari keluarga al-Saud di Arab Saudi," tulisnya dalam pernyataan
Pangeran Khalid bin Farhan Al-Saud mengumumkan pembelotannya dari keluarga kerajaan al-Saud melalui pernyataan resmi dan menyerukan kepada pangeran lainnya memecah keheningan mereka dan mengungkapkan kebenaran demi Allah.

Pangeran Saudi itu menjelaskan penderitaannya di bawah pemerintahan rezim al-Saud dan menggambarkannya sebagai pengalaman pahit yang diungkapkan dalam twitter bersama penulis Mujtahid serta pembangkang Arab Saad al-Faqih, yang saat ini tinggal di London.

Dikatakannya, dia bersyukur kepada Allah Swt yang membantunya memahami kebenaran mengenai rezim Saudi melalui pengalaman pribadi yang mengerikan, sehingga ia masih bisa memiliki rasa seperti yang orang lain derita di seluruh negeri, sejak masa kecilnya.

"Dengan bangga, saya mengumumkan pembelotan saya dari keluarga al-Saud di Arab Saudi," tulisnya dalam pernyataan.

"Rezim di Arab Saudi ini sudah tidak berdiri dengan aturan Allah atau bahkan aturan negara mapan. Dan semua kebijakan, keputusan, dan tindakan semata-mata dan benar-benar didasarkan pada kehendak pribadi pemimpinnya."

"Semua yang dikatakan di Arab Saudi tentang penghormatan hukum dan aturan agama hanya tiruan, dan mereka bisa berbohong dan berpura-pura bahwa rezim mematuhi aturan Islam."

Dia lebih jauh mengkritik keluarga kerajaan yang menganggap negara sebagai milik pribadi sendiri sambil membungkam semua suara dari dalam dan luar pemerintah yang menyerukan perubahan dan reformasi.

Khalid Bin Farhan :"juga mengatakan: keluarga yang 


berkuasa sengaja menarik negara dengan kondisi saat 


ini di mana teriakan orang tertindas diabaikan.


"Mereka tidak berpikir mengenai apa pun kecuali keuntungan pribadi mereka dan tidak pernah peduli kepada negara dan kepentingan rakyat atau bahkan keamanan nasional," tambahnya.

Dia memperingatkan masalah yang menimpa saat ini di Arab Saudi bukan perkara dan hal yang sementara atau dangkal, dan masalah-masalah itu tidak akan berakhir hanya pada pengangguran, upah yang rendah, distribusi kekayaan umum, fasilitas, jasa dan lain-lain

"Masalah-masalah yang ada sangat mendalam dan nyata," katanya, "Masalah-msalah tersebut mengenai korupsi politik dan keuangan serta penyalahgunaan kekuasaan dan korupsi dalam sistem parlemen dan peradilan.

Pangeran Saudi itu menjelaskan, segala sesuatu yang dikatakan oleh oposisi pro-reformasi mengenai politik, ekonomi, peradilan negara, sosial dan kondisi keamanan serta penyalahgunaan mereka atas nilai-nilai agama adalah benar, dan "situasinya bahkan lebih buruk dari apa yang dikatakan dalam kritik tersebut".

Dia akhirnya meminta semua orang yang masih peduli untuk masa depan negara segera bergabung dengannya dan aliran reformasi dan memecah keheningan pada korupsi yang merajalela di kerajaan al-Saud.[IT/Onh/Ass]

sumber:http://www.islamtimes.org/

Friday, November 2, 2012

Wahabi,Sejarah dan ciri-cirinya



inilah para pendiri kerajaan saudi,setelah mereka menyingkirkan  penguasa Hijaz dan Nejad,
yaitu Syarif Husein Bin Ali.
Ibnu Saud didukung ulama wahaby,Muhammad ibn Abdul Wahab dan Pasukan Inggris


INILAH TIGA TANDUK SETAN : INGGRIS, IBNU SAUD dan WAHABI

Paham Wahabi muncul pada pertengah abad 18 di Dir’iyyah, sebuah dusun terpencil di Jazirah Arab.
 Kata Wahabi ini dambil dari nama pendirinya, Muhammad bin Abdul-Wahhab (1703-1792).



Namun, kendati Ibnu Abdul Wahhab dianggap sebagai Bapak Wahabisme, faktanya Kerajaan Inggris-lah yang membidani kelahirannya dengan gagasan-gagasan Wahabisme, dan merekayasa Muhammad bin Abdul-Wahhab sebagai Imam dan pendiri Wahabisme, untuk tujuan menghacurkan Islam dari dalam, dan meruntuhkan Daulah Utsmaniyyah.


Ketika berada di Basra, Irak, Ibnu Abdul-Wahhab muda jatuh dalam pengaruh dan kendali seorang mata-mata Inggris, Hempher, yang sedang menyamar. Ia salah satu seorang mata-mata yang dikirim London untuk negeri-negeri Muslim di Timur Tengah untuk menggoyang Kekhalifaan Utsmaniyyah dan menciptakan konflik di antara kaum Muslim.


Hempher, dengan berbagai pendekatan mengesankan yang dilakukannya, telah berhasil mencuci otak Ibnu Abdul-Wahhab dengan meyakinkannya bahwa orang-orang Islam mesti dibunuh, karena mereka telah keluar dari prinsip-prinsip Islam yang mendasar. Mereka semua telah melakukan perbuatan-perbuatan bidah dan syirik.


Hempher juga menciptakan mimpi liar dan mengatakan bahwa dia bermimpi Nabi Muhammad SAW mencium kening (di antara kedua mata) Ibnu Abdul-Wahhab, bahwa dia akan jadi orang besar, dan meminta kepadanya untuk menjadi orang yang dapat menyelamatkan Islam dari berbagai bidah dan takhayul.


Akhirnya, setelah kembali ke Najd, Ibnu Abdul-Wahhab mulai berdakwah dengan gagasan liarnya di Uyayna. Karena dakwahnya yang keras itu, akhirnya ia disusir dari tempat kelahirannya. Kemudian dia pergi berdakwah di dekat Dir’iyyah, di mana sahabat karibnya, Hempher dan beberapa mata-mata Inggris lainnya yang ada dalam penyamaran, ikut bergabung dengannya.


Sebetulnya banyak pihak yang menentang ajaran Ibnu Abdul-Wahhab yang keras dan kaku itu, termasuk ayah kandungnya sendiri dan saudaranya, Sulaiman Ibnu Abdul-Wahhab. Namun dengan uang, mata-mata Inggris telah berhasil membujuk  Syekh Dir’iyyah, Muhammad Saud, untuk mendukung Ibnu Abdul-Wahhab.

Akhirnya, pada tahun 1744, Saud menggabungkan kekuatan dengan Ibnu Abdul-Wahhab dengan membangun sebuah aliansi politik, agama, dan perkawinan. Dengan aliansi ini, antara keluarga Saud dan Ibnu Abdul-Wahhab, yang hingga saat ini masih eksis, Wahabisme sebagai sebuah “agama” dan gerakan politik telah lahir!


Sebagai hasil aliansi Saudi-Wahabi pada 1774 ini, sebuah kekautan angtan perang kecil dibangun, yang terdiri dari orang-orang Arab Badui, terbentuk melalui mata-mata Inggris yang melengkapi mereka dengan uang dan persenjataan.


Sampai pada waktunya, angkatan perang ini pun berkembang menjadi sebuah ancaman besar yang pada akhirnya melakukan teror di seluruh Jazirah Arab sampai ke Suriah, dan menjadi penyebab munculnya fitnah terburuk di dalam sejarah Islam.


Sebagai contoh, untuk memberantas apa yang mereka sebut sebagai syirik dan bidah, Saudi-Wahabi telah mengejutkan seluruh dunia Islam pada 1801, dengan tindakan brutal menghancurkan makam Sayidina Husein bin Ali di Karbala, Irak. Mereka juga tanpa ampun membantai lebih dari 4.000 orang di Karbala dan merampok lebih dari 4.000 unta yang mereka bawa sebagai harta rampasan.


Sekali lagi, pada 1081, kaum Wahabi dengan kejam membunuh penduduk tak berdosa di sepanjang Jazirah Arab. Mereka menjajah banyak kafilah peziarah dan sebagian besar di kota-kota Hijaz, termasuk Makkah dan Madinah, mereka menyerang dan menodai Masjid Nabawi, membongkar makam Nabi.

Para teroris Saudi-Wahabi ini telah melakukan tindak kejahatan yang menimbulkan kemarahan kaum Muslimin di seluruh dunia, termasuk Kekhalifaah Utsmaniyyah di Istanbul. Sebagai penguasa yang bertanggung jawab atas keamanan Jazirah Arab, Khalifah Mahmud II memerintah sebuah angkatan perang Mesir dikirim ke Jazirah Arab untuk menghukum klan Saudi-Wahabi.


Bagaimanapun, beberapa anggota Dinasti Saudi-Wahabi sudah mengatur untuk melarikan diri; di antara mereka adalah Imam Abdul-Rahman al-Saud dan putranya yang masih remaja, Abdul-Aziz. Dengan cepat keduanya melarikan diri ke Kuwait yang dikontrol Kolonial Inggris.


Ketika di Kuwait, Abdul-Rahman dan putranya, Abdul-Aziz memohon uang, persenjataan dan bantuan kepada Inggris untuk merebut kembali Riyadh. Maka, melalui strategi licin, Kolonial Inggris dengan cepat menghancurkan Kekhalifaan Islam Utsmaniyyah dan sekutunya klan al-Rasyid secara menyeluruh, dan Kolonial Inggris pun memberi sokongan kepada Imam baru Wahabi, Abdul-Aziz.


Pada 1902, akhiranya Abdul-Aziz si Imam Wahabi berhasil merebut Riyadh. Salah satu tindakan biadab Imam baru Wahabi ini adalah menteror penduduknya dengan memaku kepala al-Rasyid pada pintu gerbang kota. Abdul-Aziz dan para pengikut fanatik Wahabi-nya juga membakar hidup-hidup 1.200 orang sampai mati.


Imam Wahabi, Abdul-Aziz, yang dikenal di Barat sebagai Ibnu Saud ini, sangat dicintai oleh majikan Inggrisnya. Banyak pejabat dan utusan Pemerintah Kolonial Inggis di wilayah Teluk Arab sering menemui dan mengunjunginya, dan dengan murah hati mereka mendukungnya dengan uang, senjata, dan para penasihat.


Kini, berangsur-angsur Imam Abdul-Aziz dengan bengis dapat menaklukkan hampir seluruh Jazirah Arab di bawah panji-panji Wahabisme untuk mendirikan Kerajaan Saudi-Wahabi ke-3, yang kini disebut “Kerajaan Saudi Arabia”.



(Oleh : Moh. Achyat Ahmad / Sidogiri)




INILAH CIRI-CIRI PEMIKIRAN WAHABI

CIRI-CIRI WAHABI VERSI 2

Ciri-Ciri Komplotan Wahabi

1. Membagi Tauhid menjadi 3 bagian yaitu:

(a). Tauhid Rububiyyah: Dengan tauhid ini, mereka mengatakan bahwa kaum musyrik Mekah dan orang-orang kafir juga mempunyai tauhid.

(b). Tauhid Uluhiyyah: Dengan tauhid ini, mereka menafikan tauhid umat Islam yang bertawassul, beristigathah dan bertabarruk sedangkan ketiga-tiga perkara tersebut diterima oleh jumhur ulama‟ Islam khasnya ulama‟ empat Imam madzhab.

(c.) Tauhid Asma’ dan Sifat: Tauhid versi mereka ini bisa menjerumuskan umat islam ke lembah tashbih dan tajsim kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala seperti:

Menterjemahkan istiwa’ sebagai bersemayam/bersila

Merterjemahkan yad sebagai tangan

Menterjemahkan wajh sebagai muka

Menisbahkan jihah (arah) kepada Allah (arah atas – jihah ulya)

Menterjemah janb sebagai lambung/rusuk

Menterjemah nuzul sebagai turun dengan dzat

Menterjemah saq sebagai betis

Menterjemah ashabi’ sebagai jari-jari, dll

Menyatakan bahawa Allah SWT mempunyai “surah” atau rupa

Menambah bi dzatihi haqiqatan [dengan dzat secara hakikat] di akhir setiap ayat-ayat 

Mutashabihat

2. Memahami ayat-ayat mutashabihat secara zhahir tanpa penjelasan terperinci dari ulama-ulama yang mu’tabar

3. Menolak asy-Sya’irah dan al-Maturidiyah yang merupakan ulama’ Islam dalam perkara Aqidah yang diikuti mayoritas umat islam

4. Sering mengkrititik asy-Sya’irah bahkan sehingga mengkafirkan asy-Sya’irah.

5. Menyamakan asy-Sya’irah dengan Mu’tazilah dan Jahmiyyah atau Mu’aththilah dalam perkara mutashabihat.

6. Menolak dan menganggap tauhid sifat 20 sebagai satu konsep yang bersumberkanfalsafah Yunani dan Greek.

7. Berselindung di sebalik mazhab Salaf.

8. Golongan mereka ini dikenal sebagai al-Hasyawiyyah, al-Musyabbihah, al-Mujassimah atau al-Jahwiyyah dikalangan ulama’ Ahli Sunnah wal Jama’ah.

9. Sering menuduh bahwa Abu Hasan Al-Asy’ari telah kembali ke mazhab Salaf setelah bertaubat dari mazhab asy-Sya’irah. Menuduh ulama’ asy-Sya’irah tidak betul-betul memahami faham Abu Hasan Al-Asy’ari.

10. Menolak ta’wil dalam bab Mutashabihat.

11. Sering menuduh bahwa mayoritas umat Islam telah jatuh kepada perbuatan syirik.

12. Menuduh bahwa amalan memuliakan Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam [membaca maulid dll] membawa kepada perbuatan syirik.

13. Tidak mengambil pelajaran sejarah para anbiya’, ulama’ dan sholihin dengan
dalih menghindari syirik.

14. Pemahaman yang salah tentang makna syirik, sehingga mudah menghukumi orang sebagai pelaku syirik.

15. Menolak tawassul, tabarruk dan istighathah dengan para anbiya’ serta sholihin.

16. Mengganggap tawassul, tabarruk dan istighathah sebagai cabang-cabang syirik.

17. Memandang remeh karamah para wali [auliya’].

18. Menyatakan bahwa ibu bapa dan datuk Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam tidak selamat dari adzab api neraka.
19. Mengharamkan mengucap “radhiallahu ‘anha” untuk ibu Rosulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam, Sayyidatuna Aminah.

SIKAP

1. Sering membid’ahkan amalan umat Islam bahkan sampai ke tahap mengkafirkan
mereka.
2. Mengganggap diri sebagai mujtahid atau berlagak sepertinya (walaupun tidak layak).
3. Sering mengambil hukum secara langsung dari al-Qur’an dan hadits (walaupun tidak layak).
4. Sering memtertawakan dan meremehkan ulama’ pondok dan golongan agama yang lain.
5. Ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits yang ditujukan kepada orang kafir sering ditafsir ke atas orang Islam.
6. Memaksa orang lain berpegang dengan pendapat mereka walaupun pendapat itu syaz (janggal).

HADITS

1. Menolak beramal dengan hadis dho’if.
2. Penilaian hadits yang tidak sama dengan penilaian ulama’ hadits yang lain.

3. Mengagungkan Nasiruddin al-Albani di dalam bidang ini [walaupun beliau tidakmempunyai sanad bagi menyatakan siapakah guru-guru beliau dalam bidang hadits.[Bahkan mayoritas muslim mengetahui bahwa beliau tidak mempunyai guru dalam bidang hadits dan diketahui bahawa beliau belajar hadits secara sendiri dan ilmu jarh dan ta’dil beliau adalah mengikut Imam al-Dhahabi].

4. Sering menganggap hadits dho’if sebagai hadits mawdhu’ [mereka mengumpulkan hadits dho’if dan palsu di dalam satu kitab atau bab seolah-olah kedua-dua kategori hadits tersebut adalah sama]

5. Pembahasan hanya kepada sanad dan matan hadits, dan bukan pada makna hadits. Oleh karena itu, pebedaan pemahaman ulama’ [syawahid] dikesampingkan.

QUR’AN

1. Menganggap tajwid sebagai ilmu yang menyusahkan dan tidak perlu (Sebagian Wahabi indonesia yang jahil)

FIQH

1. Menolak mengikuti madzhab imam-imam yang empat; pada hakikatnya
mereka bermadzhab “TANPA MADZHAB”
2. Mencampuradukkan amalan empat mazhab dan pendapat-pendapat lain sehingga membawa kepada talfiq [mengambil yang disukai] haram
3. Memandang amalan bertaqlid sebagai bid’ah; mereka mengklaim dirinya berittiba’
4. Sering mengungkit dan mempermasalahkan soal-soal khilafiyyah
5. Sering menggunakan dakwaan ijma’ ulama dalam masalah khilafiyyah
6. Menganggap apa yang mereka amalkan adalah sunnah dan pendapat pihak lain adalah Bid’ah
7. Sering menuduh orang yang bermadzhab sebagai ta’assub [fanatik] mazhab
8. Salah faham makna bid‟ah yang menyebabkan mereka mudah membid‟ahkan orang lain
9. Mempromosikan madzhab fiqh baru yang dinamakan sebagai Fiqh al-Taysir, Fiqh al-Dalil, Fiqh Musoffa, dll [yang jelas keluar daripada fiqh empat mazhab]
10. Sering mewar-warkan agar hukum ahkam fiqh dipermudahkan dengan menggunakan hadis “Yassiru wa la tu’assiru, farrihu wa la tunaffiru”
11. Sering mengatakan bahwa fiqh empat madzhab telah ketinggalan zaman

NAJIS

1. Sebagian mereka sering mempermasalahkan dalil akan kedudukan babi sebagai najis mughallazhah
2. Menyatakan bahwa bulu babi itu tidak najis karena tidak ada darah yang mengalir.

WUDHU’

1. Tidak menerima konsep air musta’mal
2. Bersentuhan lelaki dan perempuan tidak membatalkan wudhu’
3. Membasuh kedua belah telinga dengan air basuhan rambut dan tidak dengan air yang baru.

ADZAN

1. Adzan Juma’at sekali; adzan kedua ditolak

SHALAT

1. Mempromosikan “Sifat Shalat Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam‟, dengan alasan kononnya shalat berdasarkan fiqh madzhab adalah bukan sifat shalat Nabi yang benar
2. Menganggap melafazhkan kalimat “usholli” sebagai bid’ah.
3. Berdiri dengan kedua kaki mengangkang.
4. Tidak membaca “Basmalah‟ secara jahar.
5. Menggangkat tangan sewaktu takbir sejajar bahu atau di depan dada.
6. Meletakkan tangan di atas dada sewaktu qiyam.
7. Menganggap perbedaan antara lelaki dan perempuan dalam shalat sebagai perkara bid‟ah (sebagian Wahabiyyah Indonesia yang jahil).
8. Menganggap qunut Subuh sebagai bid’ah.
9. Menggangap penambahan “wa bihamdihi” pada tasbih ruku’ dan sujud adalah bid’ah.
10. Menganggap mengusap muka selepas shalat sebagai bid’ah.
11. Shalat tarawih hanya 8 rakaat; mereka juga mengatakan shalat tarawih itu
sebenarnya adalah shalat malam (shalatul-lail) seperti pada malam-malam lainnya
12. Dzikir jahr di antara rakaat-rakaat shalat tarawih dianggap bid’ah.
13. Tidak ada qadha’ bagi shalat yang sengaja ditinggalkan.
14. Menganggap amalan bersalaman selepas shalat adalah bid’ah.
15. Menggangap lafazh sayyidina (taswid) dalam shalat sebagai bid’ah.
16. Menggerak-gerakkan jari sewaktu tasyahud awal dan akhir.
17. Boleh jama’ dan qashar walaupun kurang dari dua marhalah.
18. Memakai sarung atau celana setengah betis untuk menghindari isbal.
19. Menolak shalat sunnat qabliyyah sebelum Juma’at
20. Menjama’ shalat sepanjang semester pengajian, karena mereka berada di landasan Fisabilillah

DO’A, DZIKIR DAN BACAAN AL-QUR’AN

1. Menggangap do’a berjama’ah selepas shalat sebagai bid’ah.
2. Menganggap dzikir dan wirid berjama’ah sebagai bid’ah.
3. Mengatakan bahwa membaca “Sodaqallahul ‘azhim” selepas bacaan al-Qur’an adalah Bid’ah.
4. Menyatakan bahwa do’a, dzikir dan shalawat yang tidak ada dalam al-Qur’an dan Hadits sebagai bid’ah. Sebagai contoh mereka menolak Dala’il al-Khairat, Shalawat al-Syifa‟, al-Munjiyah, al-Fatih, Nur al-Anwar, al-Taj, dll.
5. Menganggap amalan bacaan Yasin pada malam Jum’at sebagai bid’ah yang haram.
6. Mengatakan bahwa sedekah atau pahala tidak sampai kepada orang yang telah wafat.
7. Mengganggap penggunaan tasbih adalah bid’ah.
8. Mengganggap zikir dengan bilangan tertentu seperti 1000 (seribu), 10,000 (sepuluh ribu), dll sebagai bid’ah.
9. Menolak amalan ruqiyyah syar’iyah dalam pengobatan Islam seperti wafa‟, azimat, dll.
10. Menolak dzikir isim mufrad: Allah Allah.
11. Melihat bacaan Yasin pada malam nisfu Sya’ban sebagai bid’ah yang haram.
12. Sering menafikan dan memperselisihkan keistimewaan bulan Rajab dan Sya’ban.
13. Sering mengkritik keutamaan malam Nisfu Sya’ban.
14. Mengangkat tangan sewaktu berdoa’ adalah bid’ah.
15. Mempermasalahkan kedudukan shalat sunat tasbih.


PENGURUSAN JENAZAH DAN KUBUR

1. Menganggap amalan menziarahi maqam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para anbiya’, awliya’, ulama’ dan sholihin sebagai bid’ah dan shalat tidak boleh dijama’ atau qasar dalam ziarah seperti ini.
2. Mengharamkan wanita menziarahi kubur.
3. Menganggap talqin sebagai bid’ah.
4. Mengganggap amalan tahlil dan bacaan Yasin bagi kenduri arwah sebagai bid’ah yang haram.
5. Tidak membaca do’a selepas shalat jenazah.
6. Sebagian ulama’ mereka menyeru agar Maqam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dikeluarkan dari masjid nabawi atas alasan menjauhkan umat Islam dari syirik
7. Menganggap kubur yang bersebelahan dengan masjid adalah bid’ah yang haram
8. Do’a dan bacaan al-Quran di perkuburan dianggap sebagai bid’ah.

MUNAKAHAT [PERNIKAHAN]

1. Talak tiga (3) dalam satu majlis adalah talak satu (1)

MAJLIS SAMBUTAN BERAMAI-RAMAI

1. Menolak peringatan Maulid Nabi; bahkan menyamakan sambutan Mawlid Nabi dengan perayaan kristen bagi Nabi Isa as.
2. Menolak amalan marhaban para habaib
3. Menolak amalan barzanji.
4. Berdiri ketika bacaan maulid adalah bid’ah
5. Menolak peringatan Isra’ Mi’raj, dll.


HAJI DAN UMRAH

1. Mencoba untuk memindahkan “Maqam Ibrahim as.” namun usaha tersebut telah digagalkan oleh al-Marhum Sheikh Mutawalli Sha’rawi saat beliau menemuhi Raja Faisal ketika itu.
2. Menghilangkan tanda telaga zam-zam
3. Mengubah tempat sa’i di antara Sofa dan Marwah yang mendapat tentangan ulama’ Islam dari seluruh dunia


PEMBELAJARAN DAN PENGAJARAN

1. Maraknya para professional yang bertitle LC menjadi “ustadz-ustadz‟ mereka (di Indonesia)
2. Ulama-ulama yang sering menjadi rujukan mereka adalah:
a. Ibnu Taymiyyah al-Harrani
b. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah
c. Muhammad bin Abdul Wahhab
d. Sheihk Abdul Aziz bin Baz
e. Nasiruddin al-Albani
f. Sheikh Sholeh al-Utsaimin
g. Sheikh Sholeh al-Fawzan
h. Adz-Dzahabi dll.

3. Sering mendakwahkan untuk kembali kepada al-Qura’an dan Hadits (tanpa menyebut para ulama’, sedangkan al-Qura’n dan Hadits sampai kepada umat Islam melalui para ulama’ dan para ulama’ juga lah yang memelihara dan menjabarkan kandungan al-Qur’an dan Hadits untuk umat ini)
4. Sering mengkritik Imam al-Ghazali dan kitab “Ihya’ Ulumuddin”

PENGKHIANATAN MEREKA KEPADA UMAT ISLAM

1. Bersekutu dengan Inggris dalam menjatuhkan kerajaan Islam Turki Utsmaniyyah
2. Melakukan perubahan kepada kitab-kitab ulama’ yang tidak sehaluan dengan mereka
3. Banyak ulama’ dan umat Islam dibunuh sewaktu kebangkitan mereka di timur tengah
4. Memusnahkan sebagian besar peninggalan sejarah Islam seperti tempat lahir Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, meratakan maqam al-Baqi’ dan al-Ma’la [makam para isteri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Baqi’, Madinah dan Ma’la, Mekah], tempat lahir Sayyiduna Abu Bakar dll, dengan hujjah tempat tersebut bisa membawa kepada syirik.

5. Di Indonesia, sebagian mereka dalu dikenali sebagai Kaum Muda atau Mudah [karena hukum fiqh mereka yang mudah, ia merupakan bentuk ketaatan bercampur dengan kehendak hawa nafsu].

TASAWWUF DAN THARIQAT

1. Sering mengkritik aliran Sufisme dan kitab-kitab sufi yang mu’tabar
2. Sufiyyah dianggap sebagai kesamaan dengan ajaran Budha dan Nasrani
3. Tidak dapat membedakan antara amalan sufi yang benar dan amalan bathiniyyah yang sesat.

Wallahu a’lam bish-Showab wal hadi ila sabilil haq.