Thursday, May 29, 2014

Ada Apa dengan Islam Syiah?


Islam Times- 

Kemudian mereka menyelidik. Dalam masa itu, mereka menemukan seabrek buku para pemikir Syiah yang bercitarasa revolusioner, menyajikan Islam yang hidup dan menghidupkan, Islam yang gerak dan menggerakkan.
Deklarasi Anti Syiah (khabarsoutheastasia)
Deklarasi Anti Syiah (khabarsoutheastasia)

Ini adalah tulisan ketiga dari rangkaian tulisan ihwal aksi pengkafiran Syiah dan sosok-sosok di baliknya. Tulisan pertama berjudul “Inilah Khomeini yang Mereka Kafirkan itu”, kedua berjudul “Khomeini, Revolusi Islam dan Kaum Pengkafir”, dan ketiga adalah tulisan ini. Ketiga tulisan itu bakal bersambungan dengan tulisan berseri tentang sisi-sisi gelap dan kontroversial sejumlah sosok yang tindak tanduk dan kegemarannya tak pernah lepas dari upaya mengkafirkan mazhab Syiah.
______________________________________________________________________

DI KEPALA Ahmad bin Zen Alkaf, Muhammad Baharun, Thahir Alkaf, Cholil Ridwan, Athian Ali, Abu Jibril, Bachtiar Natsir, Yunahar Ilyas, Ma’ruf Amin, dll perpindahan mazhab terjadi karena dua alasan: penyesatan dan iming-iming dunia. Tidak lebih dan tidak kurang. Sebagian besar orang itu pindah mazhab karena tersesat oleh ‘propaganda Syiah’, dan sebagian lain pindah karena tergiur iming-iming ‘dana Iran’.

Bagi para pembenci, penghujat dan pengkafir Syiah, kalangan imigran mazhab ini adalah kerumunan orang sial, pandir, awam, naif, lemah iman, loyo mental dan sebagainya. Orang-orang ini tidak punya alasan rasional apapun untuk pindah mazhab, kata mereka. Di mata mereka, syiah adalah paragon massa mengambang, tidak mengakar dalam akidah Sunni, dan tidak kenal Islam. Dengan sedikit propaganda dan iming-iming dunia lah mereka lantas berbondong-bondong keluar dari Islam berpindah jadi Syiah, kata mereka.

Sampai di sini, tentu saja kita mudah mengendus bau takabur yang menyengat. Cara mereka merendahkan, meremehkan, menyesatkan, mengkafirkan dan menghantamkan sumpah serapah kepada umat Islam yang berpindah mazhab ini menunjukkan gejolak keras di ubun-ubun kemanusiaan mereka.

Ya, hasilnya memang penilaian yang keji dan zalim. Tapi, apa mau dikata? Inilah cara pandang asli kaum takfiri. Cara pandang ini lahir dari muntahan jiwa yang gundah, dada yang sesak dengan kebencian membludak yang, ironisnya, berhulu dari keraguan akan keyakinan mereka sendiri dan sebab-bebab fisiologis lain seperti kelebihan hormon antagonistik, kekurangan enzim dan, tak menutup kemungkinan, penyumbatan pasokan darah dan oksigen ke otak mereka. Semua faktor itu tentu saja masih harus ditambah dengan terbuka lebarnya dua pintu api neraka dalam jiwa mereka: prasangka buruk dan perasaan ujub. Prasangka buruk membawa orang merendahkan siapa saja di depannya dan ujub melahirkan perasaan kagum pada ilmu, sikap, perilaku dan karya dewek, dengan tetap mempertahankan sikap meremehkan siapa saja selain dirinya sendiri.

Ujung-ujungnya, sampailah mereka, gerombolan yang gemar mengkafirkan sesame Muslim itu, pada logika setan: jika banyak yang sepertiku maka aku akan aman; jika banyak yang mulai meninggalkanku, maka posisiku akan berbahaya; dan untuk memperbanyak orang sepertiku maka mau tidak mau aku harus memaksa atau menipu. Dan sungguh setan mengira semua selain dirinya berpikir dengan cara yang sama sehingga dia akan selalu menipu orang yang sejak semula menerima tipuan dan tidak akan bisa menipu siapa saja yang tidak mau ditipu, yakni mereka yang menolak kerangka penipuan yang dipakainya.

Begitulah sejatinya sejarah masa lalu dan masa depan setan: Dari dulu sampai kapan pun, pengikut setan tidak akan bertambah dan tidak akan pula berkurang. Sebab hakikatnya mereka adalah bayang-bayang dan dayang-dayang setan sendiri, sejenis duplikatnya dari jenis-jenis lain, yang memakai cara pikir dan sikap hidup yang sama dengan setan. So, penipuan setan sebenarnya cermin ketertipuannya sendiri, seperti saat dia mengira bahwa ‘api lebih baik daripada tanah’, padahal tidak pernah ada bukti sah yang membenarkan prasangka bodohnya.

Walhasil, penipuan itu sebenarnya tidak bergerak maju melainkan melingkar kembali ke titik awal: penipuan hanya akan menipu sang penipu sebelum korban lain ada yang dapat tertipu. Korban pertama para penipu adalah diri mereka sendiri.

Cara pandang di atas sungguh jauh berbeda dengan cara pandang yang Allah gariskan bagi orang beriman, sebagaimana yang tertera dalam Al Qur’an: “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Al-Maidah: 105);

“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan jika mereka bermaksud menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah bagimu. Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mu’min.dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.Hai Nabi, cukuplah Allah bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu.” (Al-Anfal: 61-64).

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Alkitab ? Mereka percaya kepada jibti (setan) dan thaghut (sesembahan selain Allah), dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekkah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya daripada orang-orang yang beriman.” (An-Nisa: 51).

“Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.” (Al-Isra: 84).

Ayat-ayat itu singkatnya menggambarkan sikap orang beriman menghadapi kesesatan: tidak galau dan gentar; tidak koar-koar merasa paling benar; tidak blingsatan menghadapi kesesatan dan terakhir; selalu percaya dengan keindahan dan kecantikan jalan Allah dalam memberi petunjuk.

Nah, adakah sikap-sikap seperti itu pada para pengkafir itu?

Para pengkafir itu agaknya mirip seperti orang yang terserang sakit perut dan merasa lega dengan muntah atau buang air besar. Mereka mengira buang air besar dan muntah besar adalah ‘penyembuhan’, padahal penyebab penyakit tetap ada dan juga, bila tidak dibersihkan dengan benar, maka muntahan dan buang air itu justru dapat menimbulkan bermacam-macam penyakit lain. Mereka mengira pagelaran penghujatan, penyesatan dan pengkafiran Syiah telah menyembuhkan mereka, padahal di mana-mana bau busuk yang menyengat yang sedang mereka tebar. Sayang seribu saying sebab mereka melakukan semua itu dengan membawa nama Islam dan Nabi Suci yang menjadi rahmat bagi sekalian alam.

Maka itu, izinkan di sini kita bicara dari sisi lain, dari sisi yang lebih objektif, dari sisi para imigran mazhab itu sendiri.

Pada umumnya orang yang berpindah mazhab ini adalah pelajar, santri, aktifis, habib, peneliti dan masyarakat kelas menengah yang mata dan hati mereka terbelalak melihat revolusi Islam Iran tahun 1979. Mereka terheran-heran melihat Khomeini berhasil menumbangkan raja diraja Timur Tengah yang didukung penuh oleh Amerika Serikat dan Barat. Mereka terkesiap melihat jutaan orang tumpah ruah ke jalanan Iran untuk menyambut ajakan ‘nekat’ Khomeini untuk menumbangkan kediktatoran. Mereka lebih tercenung lagi ketika melihat bahwa semua itu dilakukan dengan cara, pola, slogan, yel-yel, dan sebagainya yang sepenuhnya Islam dan sepenuhnya bersumber dari saripati Tauhid.

Kemudian mereka menyelidik. Dalam masa itu, mereka menemukan seabrek buku para pemikir Syiah yang bercitarasa revolusioner, menyajikan Islam yang hidup dan menghidupkan, Islam yang gerak dan menggerakkan. Islam model ini tidak pernah mereka dengar di mimbar-mimbar Jum’at, di buku-buku pelajaran agama, di kampus-kampus UIN, di surau-surau pesantren, di pengajian-pengajian langgar dan sebagainya. Islam ala Khomeini itu begitu gagah menghadapi si zalim, menggebrak mustakbirin dunia, dan begitu menyentuh hati mereka yang terzalimi. Inilah Islam yang lahir dari darah Imam Ali yang syahid di mihrab, dari teriakan perlawanan Imam Husein di padang Karbala.

Islam inilah yang menyemburkan semangat baru, harapan baru pada Islam di kalangan Muslim kelas menengah kala itu—dan tentu sampai sekarang.

Lalu, pada saat yang sama, Iran sebagai negara juga tidak tinggal diam. Siapa saja yang tertindas dari kaum Muslim, ia akan datangi dan membantu. Dan yang paling banyak mendapat bantuan karena alasan-alasan ideologis dan emosional adalah bangsa Palestina—yang notabene bermazhab Sunni. Kiprah Iran di tanah suci tiga agama samawi itu jelas terbukti sudah. Demikian pula di Lebanon hingga sebuah Partai Allah lahir dan mekar menjadi yang pertama dan satu-satunya kekuatan Arab Islam yang mampu mengusir tentara Israel -- jauh sebelum Hamas mampu mengusirnya dari Gaza pada tahun 2004 juga dengan bantuan logistik, strategis dan taktik dair Iran. Ketika mujahidin Afghanistan di bawah pimpinan Ahmad Shah Massoud mengangkat senjata melawan penjajah Uni Soviet, Iran juga berada di garda depan untuk ikut membantunya. Bertahun-tahun setelahnya, dalam Perang di Bosnia-Herzegovina, Iran lah satu-satunya negara Muslim yang menurunkan sukarelawan perang demi meringankan nestapa Muslimin di negara eks Yugoslavia itu.

Khomeini. Khomeini. Khomeini. Sepanjang hidupnya, pemimpin revolusi Islam Iran itu juga tak henti-hentinya menginjeksi semangat tauhid dosis tinggi dalam tiap ceramahnya di masa-masa ketegangan perang delapan tahun Iran vs Irak. Saddam Husein, diktator Irak, kala itu adalah orang kesayangan seluruh raja Arab dan negara-negara Barat.

Publik dunia, termasuk mereka yang di Indonesia, melihat semua itu bagai pucuk dicinta ulam pun tiba. Siapa nyana, siapa sangka, Islam yang terlihat kuyu, lesu, penuh debu itu seolah mampu tegak gagah, tegap berkibar-kibar. Ini sesuatu yang sungguh menggairahkan.

Di saat dunia Islam seluruhnya, dari yang paling takfiri sampai yang paling moderat, dari yang paling wahabi sampai yang paling Sunni, bercumbu mesra dengan Amerika Serikat untuk mengusir Beruang Putih Rusia dari Afghanistan, Khomeini seorang yang lantang menantang Barat dan Timur sekaligus. La Syarqiyyah wa la Gharbiyyah, Jumhuriyyah Islamiyyah (Tidak Timur, Tidak Barat; Republik Islam), katanya.

Nah, sidang pembaca yang budiman, siapa yang tidak kagum dan bangkit dari kelesuan melihat semua itu? Hati Muslim mana yang tidak ikut berbunga-bunga menyaksikan kebangkitan kaum tertindas semegah itu? Harapan akan datangnya pertolongan Ilahi untuk menyudahi penghinaan kepada umat seperti sudah di depan mata, bak makanan yang sudah terkulum di ujung mulut. Manisnya kemenangan dan kehormatan itu terasa bagi orang-orang Muslim yang lama mendamba perubahan itu, termasuk di Indonesia, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pindah mazhab; siapa tahu barangkali itulah jalan membayar kemenangan dan kemuliaan.

Dari saat itu dan sampai sekarang, siapa yang dapat menyaksikan model pemerintahan yang lebih layak menyandang kehormatan Islam, kejayaan masa lalu Islam, janji-janji kemenangan Ilahi, dan panji-panji tauhid dibanding yang kini tegak di Iran? Akal jernih dan hati bersih mana yang mampu menolak keunggulan model Islam Iran disbanding, maaf, model ‘Islam’ Arab Saudi yang penuh dengan brutalitas terhadap sesama Muslim -- tapi demikian membebek pada AS dan Barat? Atau model Pakistan yang kini di ambang kebangkrutan dan perang saudara akibat salah urus dan korupsi yang merajalela? Atau model Afghanistan, yang sudah ‘terlalu lucu’ untuk dapat disebut sebagai negara-bangsa? Atau mungkin kini ada yang ingin mengusung model Islam Erdogan Turki yang tidak punya tawaran apa-apa kecuali pertumbuhan ekonomi? Dan untuk yang terakhir ini sepertinya Malaysia juga tak terlalu beda, bukan?

Saudara-saudara sekalian, Iran adalah satu-satunya negara Islam yang, sepanjang sejarah manusia pasca perang dunia, mampu duduk di satu meja dengan enam negara terkuat di dunia saat ini: Amerika Serikat, Rusia, China, Inggris, Perancis dan Uni Eropa. Tidak ada negara Muslim lain di dunia yang berunding secara multilateral seperti itu – kecuali Iran. Seharusnya semua ini membawa kebanggaan bagi umat, dari mazhab apapun mereka.

Tapi rupanya tidak. Musuh umat ini, para kapitalis penghisap kekayaan alam negeri-negeri Muslim, yang tidak ingin ada semangat kebangkitan di kalangan kaum mustadhafin, tidak rela melihat semua itu. Maka mulailah gerombolan perampok kekayaan alam, penjahat kemanusiaan, perusak akal sehat, penghasut dan pengobar kebencian itu menarik senjata paling murah untuk merusak semuanya: kebodohan dan kedengkian. Dengan kebodohan yang masih terus mencengkram umat ini, maka mulailah para bromocorah berjubah ulama itu menyulut perbedaan-perbedaan kecil menjadi permusuhan spektakuler. Mereka menjadikan biji sebesar kubah, meniup-niup balon praduga menjadi kenyataan yang membutakan mata. Dan modal paling besar mereka yang kedua adalah kedengkian yang dengan mudah merasuki tulang belulang dan sumsum orang yang bodoh, membakar mereka, membuat mereka blingsatan tak kenal lelah, mencari jalan terus-menerus untuk merusak musuh yang ada dalam pikirannya.

Tumbu ketemu tutup. Para kapitalis juga memainkan gendang di ruangan sebelah. Mereka membayar murah sejumlah ulama suu (ulama busuk) untuk menuliskan dalih-dalih ayat dan hadis, memutarbalikkan teks-teks, dan melepaskan teks dari konteks -- seperti mereka memotong hidung dari wajah manusia -- sehingga terlihatlah teks-teks agama itu bagaikan monster-monster yang sangat menyeramkan. Maka muncullah segala rupa pidato-pidato kebencian yang datang dari imajinasi terliar mereka ihwal Syiah; bahwa Syiah itu punya Al-Qur’an palsu, nabi palsu, kiblatnya di Karbala, penyembah seks, penyembah kubur, penyembah Ali dan Ahlul Bait mereka yang suci, pemerkosa anak-anak balita dan segala rupa ujaran kebencian yang tidak mungkin datang kecuali dari otak hasidin idza hasad (pendengki apabila sedang mendengki).

Bagi mereka yang pindah mazhab itu, sekiranya tidak ada revolusi Islam dan tidak ada teladan seperti Imam Khomeini, maka pilihan mereka tidak lain adalah berpindah ideologi mendekati kelompok-kelompok kiri seperti yang berkembang di Amerika Latin. Ada kedekatan ideologi di sini. Itulah alasan mengapa ideologi revolusioner Syiah Iran itu kini demikian dekat dengan negara-negara Amerikan Latin seperti Kuba, Venezuela, Bolivia, Brazil dan sebagainya. Bagi mereka, pilihannya ialah pindah biduk atau sekalian pindah pulau bahkan benua. Tidak ada kata tunduk pada status quo yang pengap, sumpek, kotor, tak tertahankan seperti ini. Dan inilah versi lain dari kenyataan perpindahan itu.

Selama ideologi Syiah tetap revolusioner, menentang yang zalim di jagat raya ini, selama itu pula Muslimin bakal tertarik memeluk dan membanggakannya, tak peduli dengan banyaknya teks agama dan dalil kesesatan yang menjerat mereka. Untuk yang satu ini, mereka sebenarnya siap menukar nyawa demi kemerdekaan, kehormatan, kemuliaan, dan kedaulatan bagi diri, bangsa dan negaranya tercapai. Selama Syiah itu seperti itu, selama itu pula ia akan tetap membentang ke seluruh kolong langit. Dan begitu pula sebaliknya: bila suatu saat Syiah jadi kain keset penguasa, maka golongan yang pindah ini akan mencari ideologi baru untuk menyalakan obor perjuangan mereka, sampai cahaya keadilan di ujung lorong gelap itu tercapai.

Suadara-saudara sesama manusia berakal, adakah jalan keluar dari semua ini? Adakah jalan keluar dari gelombang fitnah yang membingungkan ini? Adakah jembatan yang dapat menyeberangkan kita ke sisi yang lebih punya harapan? Jawabnya: ada dan selalu ada. Sebab di tiap zaman, ada periode kegilaan seperti ini. Dan di tiap zaman ada penyelamat yang datang dari luar diri.

Tapi kini tampaknya penyelamatan harus dilakukan sendiri-sendiri, dengan cara yang paling mudah, yakni kembali kepada akal sehat. Mari kembali kepada kewarasan, kewajaran, kepada akal yang telah Allah tanamkan gratis dalam kepala kita masing-masing. Dan mulailah kita bertanya dan bertanya: Mungkinkan orang-orang ini menjadi Syiah hanya karena sebab-sebab sepele seperti itu? Ataukah ada yang masuk Syiah karena sebab-sebab seperti itu dan ada pula yang tidak? Dan di antara mereka yang pindah mazhab menjadi Syiah itu sebagian besarnya adalah Muslimin yang sudah lama mencari dan meneliti sebuah penafsiran dan model beragama yang lebih sesuai dengan zaman ini; sebuah model keagamaan yang mampu membangkitkan emosi perlawanan, mampu menggerakkan rasa keadilan dan semangat perjuangan.

Ya, itulah Islam yang mampu memuaskan akal dan hati sekaligus, Islam rasional yang disampaikan dengan cara yang mampu merangsang emosi cinta dari dalam diri; Islam Karbalai yang melahirkan adonan perlawanan gigih-sampai-titik-cairan-terakhir atas kezaliman sekaligus suatu luapan cinta tak-kenal-batas-akhir yang memancar keras ke segenap sendi kehidupan manusia; Islam Muhammadi yang membuat hidup ini terasa bermakna, bukan sebagai abdi dunia, tapi sebagai abdi kebenaran dan keadilan yang lebih mulia dari apapun isi alam ini. (Islam Times)

Monday, December 16, 2013

Bahtera Nuh,telah ditemukan







Ternyata Nabi Nuh AS, 
juga Bertawassul kepada Nabi Muhammad SAW.

Ternyata Nabi Nuh.As juga bersholawat kepada Rasulullah Muhammad SAW, berikut fakta yang ditemukan dari fosil kayu yang ada di bahtera Nabi Nuh AS.Setelah waktu penelitian yang  memakan waktuyang cukup lama, hingga akhir tahun 1952, mereka (ahli-ahli Rusia) mengambil kesimpulan bahwa  potongan kayu tersebut merupakan potongan dari bahtera Nabi Nuh AS yang terdampar di puncak Gunung Calff (judy). Dan potongan (pelat) kayu tersebut, di mana  terdapat beberapa ukiran dari huruf kuno,merupakan bagian dari bahtera tersebut. Setelah terbukti bahwa potongan kayu tersebut merupakan potongan kayu dari bahtera Nabi Nuh AS, timbullah pertanyaan tentang kalimat apakah yang tertera di potongan kayu tersebut?. Sebuah dewan yang terdiri dari kalangan pakar dibentuk oleh Pemerintah Rusia dibawah Departemen Riset mereka untuk mencari tahu makna dari tulisan tersebut. Dewan tersebut memulai kerjanya pada tanggal 27 Februari 1953. Berikut adalah nama-nama dari anggota dewan tersebut:
1. Prof. Solomon,Universitas Moskow.
2. Prof. Ifa Han Kheeno,Lu Lu Han College,China.
3. Mr. Mishaou Lu Farug,Pakar fosil.
4. Mr. Taumol Goru,Pengajar CafezudCollege.
5. Prof. De Pakan,Institut Lenin.
6. Mr. M. Ahmad Colad,Asosiasi Riset Zitcomen.
7. Mayor Cottor, StalinCollege.

Kemudian ketujuh orang pakar ini setelah menghabiskan waktu selama delapan bulan akhirnya dapat mengambil kesimpulan bahwa bahan kayu tersebut sama dengan bahan kayu yangdigunakan untuk membangun bahteraNabi Nuh AS, dan bahwa Nabi Nuh AS telah meletakkan pelat kayu tersebut di kapalnya demi keselamatan dari  bahtera tersebut dan untuk mendapatkan perlindungan. 

Terletak di tengah-tengah dari pelat tersebut ada sebuah gambar yang berbentuk telapak tangan dimana juga terukir beberapa kata dari bahasa “Saamaani. Dan itu semua telah diteliti oleh Mr.N.F. Max, Pakar Bahasa kuno dari Mancester,Inggris menterjemahkan kalimat yang tertera dipelat tersebut  menjadi:

“Ya Allah, penolongku! Jagalah tanganku dengan kebaikan dan bimbingan dari Tubuh Mu Yang Suci,yaitu Muhammad, Ali, Fatima, Shabbar dan Shabbir. Karena mereka adalah yang teragung dan termulia. Dunia ini diciptakan untuk mereka maka tolonglah aku demi nama mereka.”

 
Semuanya sangatlah terkejut setelah mengetahui arti tulisan tersebut. Terutama yang
membikin mereka sangatlah bingung adalah kenapa pelat kayu tersebut setelah lewat beberapa abad tetap dalam keadaan utuh dan tidak rusak sedikitpun.Pelat kayu tersebut saat
ini masih disimpan dengan rapih di PusatPenelitian Fosil Moskow di Rusia. Jika anda
sekalian sedang beradadi Moskow, maka mampirlah di tempat tersebut, karena pela t kayu tersebut akan menguatkan keyakinan anda terhadap kedudukan Ahlul Bayt AS.
Terjemahan kalimat tersebut telah dipublikasikan antara lain di:

1. Weekly – Mirror,Inggris 28 Desember1953.
2. Star of Britain,London, Manchester 23Januari 1954.
3. Manchester Sunlight,23 Januari 1954.
4. London Weekly Mirror,1 Februari 1954.
5. Bathraf Najaf, Iraq 2Februari 1954.
6. Al-Huda, Kairo 31Maret 1954.
7. Ellia – Light,Knowledge & Truth,Lahore 10 Juli 1969.

Semoga shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Baginda Rasulullah SAW, sang kekasih Allah, dan keluarganya,

Catatan: Shabbar dan Shabbir adalah bahasa Sarmani yang artinya Hasan dan Husain (Putra Pasangan agung ImamAli AS dan Fathimah AS,dan cucu kesayanganRosulullah), kelima nama tersebut dalam Islam sering disebut dengan“Ahlul Bait”


Saturday, December 14, 2013

Dengarkan ini,!



Sayyid Ahmad KhatamiKepada seluruh kelompok takfiri diseluruh dunia. Saya katakan kepada kalian, “Dengarkan perkataan ini! Marjaiat Syiah memiliki kekuatan fatwa, yang ketaatan kepada fatwa mereka adalah kewajiban syar’i. Jika kalian melanjutkan tindakan-tindakan kesyetanan kalian, maka Maraji Syiah akan ikut masuk dalam medan yang akan merubah hari kalian menjadi gelap gulita. Pikirkan, apakah kalian punya kekuatan?”

Menurut Kantor Berita ABNA, serangan terhadap warga Syiah Mesir yang sedang mengadakan majelis suka cita merayakan peringatan kelahiran Imam Mahdi as pada malam Nishfu Sya’ban yang merenggut nyawa Syaikh Hasan Shatah ulama besar Islam Syiah di negara tersebut oleh sejumlah massa Salafi Takfiri telah meninggalkan luka mendalam bagi para pengikut Syiah dan mereka yang mencintai kedamaian dan tegaknya nilai-nilai kemanusiaan. Untuk mencari akar penyebab keberadaan kelompok takfiri dalam dunia Islam yang berpotensi memecah belah ummat, sejumlah ulama besar Islam yang tergabung dalam Majma Jahani Ahlul Bait as, Markaz Mudiriyat Hauzah Ilmiah Qom, Universitas Internasional al Mustafa dan Lembaga Pendekatan Mazhab-mazhab Islam menyelenggarakan dialog bersama.
Acara tersebut berlangsung malam Jum’at (27/6) dengan dihadiri beberapa ulama marja taklid diantaranya, Ayatullah Makarim Shirazi, Ayatullah Nuri Hamadani, Ayatullah Ja’far Subhani, Ayatullah Ibrahim Amini, Syaikh Hasan Shafi dan perwakilan dari Ayatullah Shafi Ghulpaghani, Ayatullah Wahid Khurasani. Pada kesempatan tersebut, Ayatullah Sayyid Ahmad Khatami menyampaikan orasinya.
Berikut beberapa poin penting dari penyampaian salah seorang angota Dewan Syura Majma Jahani Ahlul Bait tersebut.
-      Setiap hari kita mendengar berita yang menyesakkan dada yang terjadi disetiap sudut dunia Islam, mengenai pembunuhan dan pembantaian yang dialami kaum muslimin khususnya para pengikut Ahlul Bait. Dari Irak, Suriah, Pakistan sampai yang terbaru di Mesir. Khususnya kejadian yang memilukan di Mesir, jika umat Islam mendiamkannya, maka sama halnya sedang melakukan penantian untuk melihat tindakan yang lebih keji lagi akan terjadi.
-      Disebutkan, sedang berlangsung peringatan Nishfu Sya’ban disebuah rumah yang dihadiri sekitar 30 orang. Namun tiba-tiba, tanpa diundang, sekitar 2 ribu orang datang dan melakukan penyerangan terhadap rumah tersebut. Dinding rumah dirusak. Dan ulama Syiah yang memiliki program khusus keagamaan di stasiun televisi dan radio-radio sehingga dikenal luas oleh masyarakat Mesir, diseret keluar dari rumah tersebut. Kemudian dibunuh dengan cara yang sangat keji. Bersama dengan Syaikh Hasan Shahatah turut menjadi korban salah seorang saudaranya, dan 3 warga Syiah lainnya. Dan 15 atau 16 orang yang tergabung dalam majelis tersebut mengalami luka-luka.
-      Pembunuhan yang terjadi dalam peristiwa tersebut, bukan yang pertama dan juga bukan yang terakhir. Pembunuhan yang pertama adalah yang dialami Qabil. Yang kemudian sepanjang sejarah terjadi pembunuhan-pembunuhan lainnya. Dan Al-Qur’an telah mengabadikan sebagian diantaranya. Jadi pembunuhan dimasa sekarang juga terjadi, begitu juga dimasa yang akan datang. Al-Qur’an mengisahkan tentang terbunuhnya 40 Nabi dalam satu waktu yang kemudian para pembunuhnya bekerja pada pagi harinya seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Namun dikekinian yang umat Islam hadapi adalah kelompok yang membunuh atas nama Islam. Mereka menyembelih orang atas nama Islam. Mereka adalah kelompok Wahabi Takfiri yang sedang berhadapan dengan Islam Muhammadi.
-      Kami menilai Wahabi dan Ahlus Sunnah adalah dua kelompok yang berbeda dan terpisah. Sebab yang pertama kali menyatakan penentangan terhadap batilnya aqidah Wahabi adalah dari kalangan ulama Ahlus Sunnah. Yang pertama menentang pemikiran Muhammad Bin Abdul Wahab adalah gurunya sendiri. Bahkan sampai hari ini, kitab-kitab yang ditulis ulama Ahlus Sunnah dalam menentang pemikiran dan keyakinan Wahabi lebih banyak jumlahnya dari yang ditulis oleh ulama-ulama Syiah.
-      Firqah Wahabi dibangun atas dasar kekerasan. Menyebar melalui pemaksaan kehendak dan penumpahan darah-darah umat manusia yang tidak berdosa. Sepanjang sejarah mereka telah mencoreng wajah umat Islam dengan tindakan dan aksi anarkis mereka. Saya akan menyebutkan salah satu diantaranya: Pada peringatan Hari Ghaidir tahun 1216 HQ. Para pecinta Ahlul Bait larut dalam peringatan ditetapkannya Imam Ali as sebagai imam atas kaum muslimin di kota Karbala. Namun sekitar 12 ribu orang dari Wahabi menyerang Karbala dan membunuhi mereka yang tidak bersenjata dan tanpa pembelaan. Banyak dari mereka yang meninggal dari kalangan anak-anak dan orang-orang yang lemah. Mereka dibunuh hanya karena menampakkan kecintaannya kepada Ahlul Bait as secara terbuka.
-      Contoh dari kekejian mereka tersebut kembali berulang pada hari ini. Mereka dengan mudahnya meneriakkan takbir sambil mengunyah jantung orang yang baru saja mereka bunuh dan mereka bangga menampakkan dan menyiarkannya kepada seluruh dunia. Mereka menyerang rumah-rumah dan membunuhi semua anggota keluarga yang mereka temui hatta anak-anak yang masih bayi sekalipun. Apakah semua aksi-aksi keji dan biadab tersebut terjadi begitu saja tanpa ada pemicunya?.
-      Ada tiga kelompok pelaku semua tindakan keji tersebut.
Pertama, adalah kelompok awam. Mereka terkena provokasi dari kelompok yang mereka anggap alim dan ulama. Otak mereka dicuci dan diisi dengan doktrin-doktrin permusuhan terhadap Syiah. Kepada mereka dikatakan, barang siapa yang membunuh Syiah, maka kelak ketika wafat ia akan langsung masuk surga dan akan menjadi tamu istimewanya Nabi Muhammad Saw.
Kedua, kelompok ulama dan mufti Wahabi. Mufti yang sedemikian mudahnya mengeluarkan fatwa-fatwa menghalalkan tumpahnya darah seseorang. Sementara Allah SWT berfirman dalam surah an Nisa’ ayat 94, “” وَلاَ تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَى إِلَيْكُمُ السَّلاَمَ لَسْتَ مُؤْمِنًا تَبْتَغُونَ عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا” yang artinya, “…dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu: “Kamu bukan seorang mukmin” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia…”. Mereka tidak hanya menentang ayat tersebut namun juga melenceng dari sunnah dan petunjuk Nabi  Saw. Diriwayatkan dari kitab Ahlus Sunnah sendiri, dalam kitab Kanzul ‘Amal jilid 3 hal. 365 disebutkan Nabi Saw bersabda, “Barang siapa menyatakan kafir kepada seseorang yang ahli La ila haillallah, maka sesungguhnya dialah yang lebih mendekati kekafiran.” Dari kitab yang sama, diriwayatkan juga Nabi Saw bersabda, “Barangsiapa yang mengkafirkan muslim lainnya, jika tidak benar, maka kekafiran akan kembali kepada dirinya.”
Ketiga, tidak diragukan lagi, pelaku utamanya adalah AS dan Zionis. Untuk mencegah terjadinya kebangkitan Islam mereka menjadi dalang dibalik terpecah-pecahnya kaum musliminin. Dari yang paling ekstrim sampai yang paling liberal.
-      Mengapa orang-orang Syiah dibunuh?. Jawaban atas pertanyaan ini telah tercantum dalam Al-Qur’an surah al Buruuj ayat 8. “وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَن يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيد” yang artinya, “Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji..”. Balasan bagi mereka yang beriman, bagi para pengikut Ahlul Bait as adalah ini, sekarang dan yang akan datang. Mereka akan selalu mendapat permusuhan dan kebencian dari mereka yang memisahkan Al-Qur’an dari Ahlul Bait as dan mencoba untuk mereka pahami dan tafsirkan sendiri. Dan Syiah dua pusaka itulah yang menjadi kebanggaannya, Al-Qur’an dan Itrah Nabi Saw. Memahami Al-Qur’an sebagaimana Ahlul Bait memahaminya.
-      Syaikh Hasan Shahatah beserta saudaranya, senantiasa secara terbuka membanggakan mazhab pilihannya. Diantara wawancaranya yang terakhir, Syaikh Shahatah mengatakan, “Saya bersyukur kepada Allah SWT yang membuat hidupku sedemikian manis dan indah, karena kecintaan kepada Ahlul Bait as. Ayah saya telah membesarkan saya dengan kecintaan kepada Imam Ali as, kecintaan kepada Fatimah az Zahrah as dan Ahlul Bait as.” Meskipun Syaikh Shahatah meninggal dengan cara yang mengenaskan, namun ia tetap hidup sebagai seorang syahid. Insya Allah.
-      Pemerintah Mesir, Presiden dan Perdana Menterinya mengecam dan mengutuk kejadian tersebut. Namun itu tidak cukup. Telah ada lima korban jiwa yang terenggut. Dan itu harus diselesaikan secara hukum. Pembunuhnya harus diproses hukum dan mendapat balasan setimpal. Kepada pemerintah Mesir saya mengatakan, kecintaan rakyat Mesir kepada Ahlul Bait telah berlangsung 1.400 tahun lamanya. Karenanya jangan melakukan tindakan semena-mena kepada para pecinta dan pengikut Ahlul Bait.
Pesan Penting kepada Kelompok Takfiri
Kepada seluruh kelompok takfiri diseluruh dunia. Saya katakan kepada kalian, “Dengarkan perkataan ini! Marjaiat Syiah memiliki kekuatan fatwa, yang ketaatan kepada fatwa mereka adalah kewajiban syar’i. Jika kalian melanjutkan tindakan-tindakan kesyetanan kalian, maka Maraji Syiah akan ikut masuk dalam medan yang akan merubah hari kalian menjadi gelap gulita. Pikirkan, apakah kalian punya kekuatan?”
Namun ulama marja taklid kami adalah orang yang cerdas dan berwawasan luas, yang tidak akan mudah tertipu dan terpedaya oleh permainan dan tipuan musuh. Mereka melihat ini adalah medan konspirasi Amerika yang menghendaki Sunni membunuhi Syiah, dan Syiah membunuhi Sunni yang kemudian secara luas terjadi perang dan pertumpahan darah antara Sunni dan Syiah. Musuh Sunni dan Syiah adalah kelompok takfiri. Kekejian dan kebiadaban takfiri juga dikecam oleh kelompok Ahlus Sunnah.
Seruan kepada Ulama Ahlus Sunnah
Dengan penuh rasa penghormatan saya menyampaikan seruan kepada ulama Ahlus Sunnah baik yang di Iran maupun diseluruh dunia Islam.
Kami mengucapkan rasa terimakasih yang mendalam, atas kecaman kalian atas kejadian pembongkaran dan pelecehan makam sahabat Nabi Saw Hujr bin ‘Adii. Yang menunjukkan kepedulian dan perhatian kalian. Dan kamipun menjadi saksi bahwa ulama-ulama besar Ahlus Sunnah mengecam dan mengutuk perbuatab biadab dan kurang ajar tersebut.
Kami bertanya kepada ulama Ahlus Sunnah –baik yang di Iran maupun yang diluar Iran-, Apa tindakan tersebut sebab atau akibat?. Sudah dipastikan jawabannya adalah, kekejian tersebut adalah akibat dari buah pemikiran Wahabi, buah dari pemikiran takfiri. Tunjukkanlah keberanian kalian dan mulailah perlawanan terhadap akar penyebabnya. Sebagaimana keberanian yang pernah ditunjukkan ulama-ulama Syiah terhadap sekte buatan Ingrris yang bernama ‘Bahai” yang hendak mencemarkan dan menodai Syiah. Semua ulama Syiah memfatwakan, mereka pengikut Bahai adalah kafir, najis dan tidak memiliki hubungan sama sekali dengan Syiah dalam bentuk apapun. Dengan adanya fatwa tersebut, Bahai jadi tidak memiliki pengaruh sama sekali.
Keberanian yang seperti ini yang kami nantikan dari Ulama Ahlu Sunnah bahwa mereka seia sekata menyerukan bahwa paham Wahabi dan takfiri sama sekali tidak memiliki sangkut paut dengan Islam. Merekalah yang merusak Islam. Mereka juga hendak merusak Ahlus Sunnah. Mari bersama memenuhi panggilan Islam, panggilan agama dengan penuh kecintaan dan bersama memerangi akar penyebabnya, bukan disibukkan mengurusi akibat-akibat yang tampak dipermukaan.
 http://www.abna.ir/data.asp?lang=12&id=434568
Surat Ayatullah Ghulpaghani kepada Ulama Al-Azhar:
Mengecam Kekejian Wahabi Tidaklah Cukup!
“Kami mengucapkan terimakasih atas kecaman kalian terhadap terjadinya tragedi anti kemanusiaan yang menyakitkan ini, namun sekedar mengecam tidaklah cukup. Kalian termasuk turut bertanggungjawab atas terjadinya tragedi tersebut.” 
Menurut Kantor Berita ABNA, terbunuhnya 4 warga Syiah Mesir secara keji oleh sejumlah massa termasuk salah seorang tokoh Syiah Syaikh Muhammad Hasan Sahatah salah seorang cendekiawan muslim yang terkenal di Mesir, Hadhrat Ayatullah al Uzhma Luthfullah Shafi Ghulpaghani dalam suratnya yang ditujukan kepada ulama Universitas al Azhar mengatakan, “Kami mengucapkan terimakasih atas kecaman kalian terhadap terjadinya tragedi anti kemanusiaan yang menyakitkan ini, namun sekedar mengecam tidaklah cukup. Kalian termasuk turut bertanggungjawab atas terjadinya tragedi tersebut.”
Dalam lanjutan suratnya, ulama marja taklid tersebut menuliskan, “Untuk selanjutnya, kumpulkanlah ulama-ulama Islam dan serukanlah kepada seluruh kaum muslimin untuk mewujudkan persatuan Islam dan tunjukkanlah kepada dunia, Islam adalah agama yang agung, agama yang penuh rahmat dan kasih sayang, agama yang menghendaki kemuliaan dan ketinggian  peradaban umat manusia.
Berikut teks lengkap surat Ayatullah Shafi Ghulpaghani yang ditujukan kepada ulama Al-Azhar:
بسم الله الرحمن الرحیم
وَ مَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَن يُؤْمِنُوا بِاللهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

Ulama Al Azhar yang kami hormati
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Hati kami dipenuhi rasa duka yang mendalam setelah mendapat informasi DR. Syaikh Muhammad Hasan Shahatah menjadi korban keganasan kelompok yang penuh dosa dan jahil, yang telah menumpahkan darahnya ketanah dan dengan kejinya tubuh beliaupun dihinakan dan dilecehkan. Dengan alasan apapun, peristiwa tersebut menginjak-injak nilai-nilai Islam dan kemanusiaan.
Mungkin bisa dikatakan bahwa perbuatan kelompok jahil tersebut tidaklah menentang Islam dan kemanusiaan, karena bukan hanya kelompok Mesir ini saja yang berlaku keji, namun hampir terjadi dibanyak negara Islam yang telah merenggut keamanan dan kedamaian kaum muslimin di negerinya sendiri. Namun yang mengherankan, aksi kekerasan tersebut terjadi disebuah negara yang Universitas Al Azhar berada di situ. Sebuah pusat pendidikan Islam yang telah berabad-abad lamanya meninggikan dan memperkenalkan ajaran Islam yang mulia dan penuh akhlak yang santun sebagaimana yang diteladankan Nabi Muhammad Saw keseluruh dunia namun hari ini kita menjadi saksi, kekejian tersebut terjadi di negeri Mesir, tempat Al Azhar berada.
Setiap dari ulama mulia Al Azhar harus lebih serius menjalankan kewajiban utamanya. Kami berterimakasih karena Ulama Al Azhar turut mengecam dan mengutuk terjadinya aksi keji tersebut namun itu tidak cukup. Kalian ulama-ulama besar Al Azhar berhadapan dengan agama Islam yang mulia memiliki kewajiban besar dan tanggungjawab terhadap kejadian di dunia Islam hari ini.
Apakah kalian tidak melihat dan menyaksikan setiap hari ulama Wahabi mengeluarkan fatwa-fatwa yang bertentangan dengan syariat dengan menyerukan muslim satu menumpahkan darah muslim lainnya?
Apakah kalian tidak menyadari bahwa semua itu adalah propaganda musuh-musuh Islam yang dinegara-negara mereka aman dan terkendali namun di negara-negara Islam kaum muslimin satu sama lain saling menyerang dan merenggut nyawa satu sama lain?
Apakah kalian tidak melihat terbunuhnya anak-anak yang tidak berdosa, perempuan yang tanpa perlindungan dan laki-laki yang terzalimi? Yang mereka dibunuh dengan cara yang sangat keji dan itu kemudian dipertontonkan kepada dunia?
Marilah dan bangkitlah atas nama Tuhan. Manfaatkanlah semua kesanggupan dan kekuataan maknawi dan mazhabi hari ini dan saat ini juga, sebab menanti esok untuk mulai bergerak sudah sangat terlambat. Serukanlah kepada semua ulama Islam, kepada kaum muslimin se dunia untuk menjalin persatuan dan ukhuwah Islamiyah, sebagaimana yang diserukan Al-Qur’an,
 «وَ لَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَ تَذْهَبَ رِيحُكُمْ…»
Mari bersatu dan menyatukan tekad untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Islam adalah agama yang mulia, agama yang penuh rahmat dan kasih sayang, agama yang mendambakan mulia dan tingginya peradaban umat manusia.
Marilah, kita sampaikan kepada dunia bahwa hukum asasi kita adalah Al-Qur’an al Karim yang kita dengan kitab langit tersebut berkeyakinan didalamnya memuat pesan-pesan agung yang menciptakan kehidupan yang bahagia bagi umat manusia sedunia. Tuntutlah kepada para pemimpin dunia Islam untuk menghindarkan diri dari berbagai bentuk perselisihan dan pertikaian dan bersama dihadapan Al-Qur’an yang suci kita tundukkan kepala sembari menunjukkan ketaatan diri pada aturan-aturan di dalamnya.
Kami berharap semoga kaum muslimin meraih izzah dan kemuliaannya dan mampu mengalahkan musuh-musuhnya.
16 Sya’ban 1434 H
Luthfullah Shafi Ghulpaghani
Berita Majma:
Majma Jahani Ahlul Bait Kecam Pembunuhan Syiah di Mesir
Berkenan dengan terjadinya aksi keji yang dilakukan kelompok Salafi takfiri di Mesir terhadap warga Syiah yang merenggut nyawa Syaikh Hasan Sahatah dan empat orang lainnya, Majma Jahani Ahlul Bait merilis pernyataan sikap secara resmi yang mengecam aksi brutal tersebut.
Menurut Kantor Berita ABNA, berkenan dengan terjadinya aksi keji yang dilakukan kelompok Salafi takfiri di Mesir terhadap warga Syiah yang merenggut nyawa Syaikh Hasan Sahatah dan empat orang lainnya, Majma Jahani Ahlul Bait merilis pernyataan sikap secara resmi yang mengecam aksi brutal tersebut.
Dalam pernyataan sikapnya tersebut, Majma Jahani Ahlul Bait menuntut Presiden Mesir, Muhammad Mursi untuk bertanggungjawab, sebab pekan sebelumnya dalam konferensi ulama Islam yang dibukanya di Kairo tidak menunjukkan sikap menentang terhadap orasi-orasi yang disampaikan ulama-ulama Salafi Takfiri yang menyerukan pembunuhan terhadap warga Syiah. Dengan tuduhan Syiah telah kafir, ulama-ulama Salafi tersebut menyebut darah orang Syiah halal untuk ditumpahkan.
Teks pernyataan resmi Majma Jahani Ahlul Bait tersebut diawali dengan nukilan ayat,
وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلا أَن يُؤْمِنُوا بِاللَّـهِ العَزِيزِ الحَمِيد ـ الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْ‌ضِ وَاللَّـهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ ـ إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِ‌يق. (سورة البروج ؛ 8 ـ 10)
“Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.” (Qs. Al Buruuj: 8-10)
Dalam pernyataan sikap tersebut juga disebutkan, pembunuhan terhadap Syaikh Hasan Sahatah adalah pembunuhan yang sudah lama direncanakan. Syaikh Hasan Sahatah adalah ulama Syiah alumni Universitas al Azhar Mesir yang dua kali mendekam dalam penjara rezim Husni Mubarak dengan tuduhan penistaan agama. Setelah keluar dari penjara, ia mendapat permusuhan keras dari kelompok Salafi Takfiri karena keyakinan Syiah yang dianutnya yang disebut telah melenceng jauh dari Islam. Mendapat restu dari ulama-ulama yang mengeluarkan seruan untuk menyerang Syiah dan halal darah mereka ditumpahkan. Sejumlah massa menyerang rumah Syaikh Hasan Sahatah menyeretnya keluar dan membunuhnya beramai-ramai, ada yang menikam dan ada yang memecahkan batok kepalanya. Setelah itu mayatnya dilempar dan dibakar. Warga Salafi Takfiri yang menyaksikan bersorak kegirangan.
Meskipun aksi keji tersebut sangat menyakitkan hati para pengikut Syiah, Majma menyerukan agar muslim Syiah tidak terprovokasi untuk melakukan aksi balasan dengan tindakan yang serupa. Perpecahan Sunni-Syiah adalah propaganda musuh-musuh Islam untuk melemahkan kekuatan Islam yang belakangan ini semakian menguat dan mampu mencetuskan revolusi kebangkitan Islam di beberapa Negara.
Majma juga menyerukan pihak terkait untuk menyelidiki aksi pembunuhan tersebut dan menangkap semua pelaku dan dalang dibalik aksi keji tersebut. Selain itu Majma juga turut mengucapkan bela sungkawa dan perasaan duka yang mendalam atas terjadinya tragedi tersebut.

Wednesday, September 18, 2013

Syiah itu Sunni plus Imamah, dan Sunni itu Syiah minus Imamah



Muhammad Subhan,
disadur dari tulisan beliau di FB,
D
Syiah itu Sunni plus Imamah, dan Sunni itu Syiah minus Imamah..semuanya sama mencintai Rasulullah dan keluarganya,..So,anda tidak bisa menilai negara Iran secara baik dan komprehensif hanya berdasarkan fatwa keagamaan ulama suku Baluchestan -yg tidak pakai Sandal- dipedalaman tandus gurun Sistan, demikian juga dg sebaliknya... Anda tidak bisa melekatkan begitu saja kekeliruan pandangan Syiah Al-Qaramithoh untuk menjustifikasi seluruh penganut Syiah...dan anda tidak bisa menilai penganut Sunni hanya bercermin dari segelintir pandangan fatwa ulama Wahhabi -yg Notabene sunni...bahkan lebih jauh lagi, Anda tidak bisa menuduh orang sesat dan pantas masuk neraka hanya karena anda bisa melihat dikening dahinya bertuliskan "Kafir"!..karena apa?
..karena pertama, itu belum tentu dari pandangan kalbumu yang bening..
kedua, anda kan tau, sejatinya Surga dan Neraka itu milik Allah..dan sejatiNya Allah tidak memerlukan alasan untuk memasukkan para hambanya itu ke Neraka atau ke Surga.
...apakah amal ibadah kita yg kita anggap baik ini bisa menjamin kita masuk ke Surga kelak?..saudaraku, kita hanya bisa berbuat baik dan selalu berusaha mendekat kepadaNya..dan bahkan kebaikan yg kita lakukan pun berasal dariNya.
.jadi Saudaraku,..tidak ada alasan yang masuk akal untuk mempertentangkan Sunni-Syiah, karena mereka semua saudara sesama muslim.
.marilah saudaraku Syiah dan Sunni..mari bersatulah dalam keluarga islam..bersatulah, karena kalian tidak akan kehilangan apa-apa kecuali prasangka-prasangka belaka...



Sekilas Biografi Habib Munzir Al-Musawa


Sekilas Biografi Habib Munzir Al-Musawa

Written by: Admin SM on 15 September 2013 | 20:04


Al-Allamah wal Fahamah Sayyidi Syarif Al-Habib Munzir bin Fuad bin Abdurrahman bin Ali bin Abdurrahman bin Ali bin Aqil bin Ahmad bin Abdurrahman bin Umar bin Abdurrahman bin Sulaiman bin Yaasin bin Ahmad Al-musawa bin Muhammad Muqallaf bin Ahmad bin Abubakar Assakran bin Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Mauladdawilah bin Ali bin Alwi Alghayur bin Muhammad Faqihil Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shahib Marbath bin Ali Khali’ Qasim bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Almuhajir bin Isa Arrumiy bin Muhammad Annaqib bin Ali Al Uraidhiy bin Jakfar Asshadiq bin Muhammad Albaqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein Dari Fathimah Azahra Putri Rasul SAW.

Nama beliau Munzir bin Fuad bin Abdurrahman Almusawa, dilahirkan di Cipanas Cianjur Jawa barat, pada hari jum’at 23 februari 1973, bertepatan 19 Muharram 1393H, setelah beliau menyelesaikan sekolah menengah atas, beliau mulai mendalami Ilmu Syariah Islam di Ma’had Assaqafah Al Habib Abdurrahman Assegaf di Bukit Duri Jakarta Selatan, lalu mengambil kursus bhs.Arab di LPBA Assalafy Jakarta timur, lalu memperdalam lagi Ilmu Syari’ah Islamiyah di Ma’had Al Khairat, Bekasi Timur, kemudian beliau meneruskan untuk lebih mendalami Syari’ah ke Ma’had Darul Musthafa, Tarim Hadhramaut Yaman pada tahun 1994, selama empat tahun, disana beliau mendalami Ilmu Fiqh, Ilmu tafsir Al Qur;an, Ilmu hadits, Ilmu sejarah, Ilmu tauhid, Ilmu tasawuf, mahabbaturrasul saw, Ilmu dakwah, dan ilmu ilmu syariah lainnya.

Habib Munzir Al-Musawa kembali ke Indonesia pada tahun 1998, dan mulai berdakwah, dengan mengunjungi rumah rumah, duduk dan bercengkerama dg mereka, memberi mereka jalan keluar dalam segala permasalahan, lalu atas permintaan mereka maka mulailah Habib Munzir membuka majlis, jumlah hadirin sekitar enam orang, beliau terus berdakwah dengan meyebarkan kelembutan Allah swt, yang membuat hati pendengar sejuk, beliau tidak mencampuri urusan politik, dan selalu mengajarkan tujuan utama kita diciptakan adalah untuk beribadah kepada Allah swt, bukan berarti harus duduk berdzikir sehari penuh tanpa bekerja dll, tapi justru mewarnai semua gerak gerik kita dengan kehidupan yang Nabawiy, kalau dia ahli politik, maka ia ahli politik yang Nabawiy, kalau konglomerat, maka dia konglomerat yang Nabawiy, pejabat yang Nabawiy, pedagang yang Nabawiy, petani yang Nabawiy, betapa indahnya keadaan ummat apabila seluruh lapisan masyarakat adalah terwarnai dengan kenabawian, sehingga antara golongan miskin, golongan kaya, partai politik, pejabat pemerintahan terjalin persatuan dalam kenabawiyan, inilah Dakwah Nabi Muhammad saw yang hakiki, masing masing dg kesibukannya tapi hati mereka bergabung dg satu kemuliaan, inilah tujuan Nabi saw diutus, untuk membawa rahmat bagi sekalian alam. Majelisnya mengalami pasang surut, awal berdakwah ia memakai kendaraan umum turun naik bus, menggunakan jubah dan surban, serta membawa kitab-kitab. Tak jarang beliau mendapat cemoohan dari orang-orang sekitar. Beliau bahkan pernah tidur di emperan toko ketika mencari murid dan berdakwah. Kini majlis taklim yang diasuhnya setiap malam selasa di Masjid Al-Munawar Pancoran Jakarta Selatan, yang dulu hanya dihadiri tiga sampai enam orang, sudah berjumlah sekitar 10.000 hadirin setiap malam selasa, Habib Munzir sudah membuka puluhan majlis taklim di seputar Jakarta dan sekitarnya, beliau juga membuka majelis di rumahnya setiap malam jum’at bertempat di jalan kemiri cidodol kebayoran, juga sudah membuka majlis di seputar pulau jawa, yaitu:

Jawa barat :

Ujungkulon Banten, Cianjur, Bandung, Majalengka, Subang.

Jawa tengah :

Slawi, Tegal, Purwokerto, Wonosobo, Jogjakarta, Solo, Sukoharjo, Jepara, Semarang,

Jawa timur :

Mojokerto, Malang, Sukorejo, Tretes, Pasuruan, Sidoarjo, Probolinggo.

Bali :

Denpasar, Klungkung, Negara, Karangasem.

NTB

Mataram, Ampenan

Luar Negeri :

Singapura, Johor, Kualalumpur.

Buku-buku yang sering menjadi rujukan beliau di majelisnya antara lain: kitab As-syifa (Imam Fadliyat), Samailul Muhammadiyah (Imam Tirmidzi), Mukasyifatul Qulub (Imam Ghazali), Tambili Mukhdarim (Imam Sya’rani), Al-Jami’ Ash-Shahih/Shahih Bukhari (Imam Bukhari), Fathul Bari’ fi Syarah Al-Bukhari (Imam Al-Astqalani), serta kitab karangan Imam Al-Haddad dan kitab serta pelajaran yang didapat dari guru beliau Habib Umar bin Hafidh.

Nama Rasulullah SAW sengaja digunakan untuk nama Majelisnya yaitu “Majelis Rasulullah SAW”, agar apa-apa yang dicita-citakan oleh majelis taklim ini tercapai. Sebab beliau berharap, semua jamaahnya bisa meniru dan mencontoh Rasulullah SAW dan menjadikannya sebagai panutan hidup.

Adapun guru-guru beliau antara lain:

Habib Umar bin Hud Al-Athas (cipayung), Habib Aqil bin Ahmad Alaydarus, Habib Umar bin Abdurahman Assegaf, Habib Hud Bagir Al-Athas, di pesantren Al-Khairat beliau belajar kepada Ustadz Al-Habib Nagib bin Syeikh Abu Bakar, dan di Hadramaut beliau belajar kepada Al-Imam Al-Allamah Al-Hafizh Al-Arifbillah Sayyidi Syarif Al-Habib Umar bin Muhammad bin Hafidh bin Syeikh Abu Bakar bin Salim (Rubath Darul Mustafa), juga sering hadir di majelisnya Al-Allamah Al-Arifbillah Al-Habib Salim Asy-Syatiri (Rubath Tarim).

Dan yang paling berpengaruh didalam membentuk kepribadian beliau adalah Guru mulia Al-Imam Al-Allamah Al-Hafizh Al-Arifbillah Sayyidi Syarif Al-Habib Umar bin Muhammad bin Hafidh bin Syeikh Abu Bakar bin Salim.

Salah satu sanad Guru beliau adalah:

Al-Habib Munzir bin fuad Al-Musawa berguru kepada Guru Mulia Al-Imam Al-Allamah Al-Hafizh Al-Musnid Al-Arifbillah Sayyidi Syarif Al-Habib Umar bin Muhammad bin Hafidh bin Syeikh Abu Bakar bin Salim,

Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Musnid Al-Habib Abdulqadir bin Ahmad Assegaf,

Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Musnid Al-Habib Abdullah Assyatiri,

Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Hafizh Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi (simtuddurar),

Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Musnid Al-Habib Abdurrahman Al-Masyhur (shohibulfatawa),

Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Hafizh Al-Habib Abdullah bin Husen bin Thohir,

Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Hafizh Al-Habib Umar bin Seggaf Assegaf,

Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Musnid Al-Habib Hamid bin Umar Ba’alawiy,

Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Habib Al-Hafizh Ahmad bin Zein Al-Habsyi,

Dan beliau berguru kepada Al-Imam Al-Allamah Al-Hafizh Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad (shohiburratib),

Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Musnid Al-Habib Husein bin Abubakar bin Salim,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Imam Al-Allamah Al-Habib Abubakar bin Salim (fakhrulwujud),

Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Hafizh Al-Habib Ahmad bin Abdurrahman Syahabuddin,

Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Hafizh Al-Habib Abdurrahman bin Ali (Ainulmukasyifiin),

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Musnid Al-Habib Ali bin Abubakar (assakran),

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Hafizh Al-Habib Abubakar bin Abdurrahman Assegaf,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Hafizh Al-Habib Abdurrahman Assegaf,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Musnid Al-Habib Muhammad Mauladdawilah,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Musnid Al-Habib Ali bin Alwi Al-ghayur,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Hafizh Al-Imam faqihilmuqaddam Muhammad bin Ali Ba’alawiy,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Ali bin Muhammad Shahib Marbath,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Muhammad Shahib Marbath bin Ali,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Ali Khali’ Qasam bin Alwi,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Alwi bin Muhammad,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Muhammad bin Alwi,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Alwi bin Ubaidillah,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Ahmad Al-Muhajir bin Isa Arrumiy,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Isa Arrumiy bin Muhammad Annaqib,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Muhammad Annaqib bin Ali Al-Uraidhiy,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Ali Al-Uraidhiy bin Ja’far Asshadiq,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Ja’far Asshadiq bin Muhammad Al-Baqir,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Ali Zainal Abidin Assajjad,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Imam Husein ra,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Imam Ali bin Abi Thalib ra,

Dan beliau berguru kepada Semulia-mulia Guru, Sayyidina Muhammad Rasulullah SAW, maka sebaik-baik bimbingan guru adalah bimbingan Rasulullah SAW.

Sanad guru beliau sampai kepada Rasulullah SAW, begitu pula nasabnya. Demikian biografi singkat ini dibuat mohon maaf apabila ada kesalahan.

Sumber: MajelisRasulullah.org